Friday, 5 June 2015

[#NulisRandom2015] Day Four - Sendiri

Sebagai seorang sanguinis yang juga bernaung di bawah zodiak Pisces, saya adalah definisi nyata dari 'manusia adalah makhluk sosial': tidak bisa sendiri. Saya harus berada di keramaian, bersama orang lain, untuk merasa utuh.

Saya benci sendiri, karena tidak ada satu orang pun yang bisa saya ajak bicara. Saya bisa berbicara kepada Minky, boneka teddy bear berwarna pink stabilo berukuran jumbo yang ada di kamar saya, tapi Minky tidak akan bisa membalas semua pembicaraan saya dengan 'lebay lo, Ties'.

Saya benci sendiri, karena tidak ada yang bisa saya mintai komentar tentang baju mana yang harus saya pilih saat berbelanja. Cermin-cermin di toko pakaian yang saya kunjungi bukanlah cermin sakti milik Putri Salju yang bisa bilang kalau saya adalah wanita tercantik di dunia. Saya butuh teman-teman cerewet saya yang akan memberi masukan rok model apa yang harus saya beli, warna apa yang harus saya pilih, toko mana yang memberikan penawaran diskon lebih menarik.

Saya benci sendiri, karena tidak ada tindakan nyata yang mampu menyelamatkan saya dari rasa terpuruk. Tidak ada bahu mas ini untuk bersender, tidak ada pelukan hangat Mama yang membuat segala sesuatu terasa lebih indah, tidak ada tepukan di bahu dari sahabat yang membuat semua beban terbang bagai debu.

Sendiri di ruang pribadi saja sudah menyakitkan, namun sendiri di tempat publik rasanya seperti neraka. Apa nikmatnya lobster roll seharga £20 jika saya memakannya sendirian? Apa enaknya secangkir hazelnut latte jika saya harus meminumnya sendirian di sebelah suatu keluarga yang sedang berkumpul dan berbincang dengan hangat? Apa manfaatnya berdandan rapi lalu ke pub sendirian, sementara di meja sebelah sekelompok gadis sibuk bergosip seperti yang biasa saya lakukan dengan 'geng' saya?

Family. Loved one. Friends. They accompany me, they keep me happy.






Wait. No, it's definitely more than that........

.......they keep me sane


Wednesday, 3 June 2015

[#NulisRandom2015] Day Three - Perpustakaan

Perpustakaan. Library.


Apa yang ada di benak Anda sekalian jika mendengar kata perpustakaan? Sebuah ruangan dengan tingkat kebosanan yang tinggi, dipenuhi oleh orang-orang berkacamata tebal yang sedang membaca dari buku setebal bantal? Atau malah, suatu bentuk surga di dunia yang penuh dengan halaman-halaman menarik yang mengakomodasi fantasi?

Saya sendiri termasuk golongan kedua. Saya senang sekali membaca sejak masih kecil. Kalau anak kecil lain bahagia dengan boneka Barbie atau Tamiya, saya akan melonjak kegirangan jika Mama saya mengijinkan saya membeli sebuah buku saat kami jalan-jalan sekeluarga. Tapi, bukan rahasia umum lagi jika membeli buku berarti mengeluarkan sejumlah uang yang cukup lumayan. Oleh karena itu, semangat mencari gratisan dalam diri saya langsung mencari ide bagaimana caranya saya bisa tetap membaca dengan pengorbanan minimal. Dan, perpustakaan adalah jawabannya!

Waktu saya sekolah di SMP-SMA Santo Aloysius Bandung, saya suka sekali ke perpustakaan walaupun penjaganya galak sekali. Saya biasanya baca majalah atau novel, dan cukup girang karena bisa menemukan novel-novel Pujangga Baru disana. Tentunya cetakan 1970an, jadi kertasnya sudah kuning dan rapuh. Tapi saya tetap bahagia!

Saat di ITB, perpustakaan sayangnya bukan menjadi pilihan utama saya. Perpustakaan Pusat ITB dahulu sangat suram, gelap, remang-remang, dan koleksinya berasal dari jaman Orde Baru semua. Perpustakaan jurusan Farmasi cukup menyenangkan, walaupun kalau mau meminjam buku rasanya seperti mau mendaftar visa untuk berkunjung ke negara lain: ribet. Pas saya lulus, si Perpustakaan Pusat ITB menjadi kinclong bersinar dan kece abis. Hahaha, emang kurang hoki.

Saat kerja di PT Dexa Medica, secara tidak terduga, tersedia perpustakaan yang bisa diakses gratis oleh setiap karyawan! Koleksi buku-bukunya juga beragam sekali. Dari buku-buku sakti penunjang pekerjaan seperti AHFS Drug Information dan Handbook of Injectable Drugs, hingga novel terbaru kaya Dee Lestari dan Ariesadhar. Jurnal-jurnal kefarmasian, buku-buku self-motivation, surat kabar mulai dari Kompas hingga Jakarta Post, majalah mulai dari Reader's Digest hingga Cosmopolitan. Gimana saya nggak teriak-teriak dalam hati coba? Saya selalu rindu ngantor dan pergi ke perpus kalau lagi kebagian tugas keluar kota. Librarian-nya, kebetulan adalah teman baik saya. Jadi info ter-update soal koleksi perpustakaan pasti sampai ke telinga saya, kadang lengkap dengan resensinya. Mantab!

Tiba di negara ini, saya benar-benar nggak habis pikir dengan perpustakaan disini. Bayangkan, di daerah tempat saya tinggal saja ada dua perpustakaan lokal yang bisa dicapai dengan jalan kaki selama 5-10 menit! Pokoknya masyarakat disini benar-benar dimanjakan oleh adanya perpustakaan yang dikelola oleh City Council. Koleksinya cukup update, menjadi member pun cukup mudah. Selain buat tempat membaca, perpustakaan juga menyediakan berbagai kegiatan menarik, misalnya Knitting Club yang saya temui di Kentish Town Library. Beberapa warga senior disini saya perhatikan setiap hari jalan ke perpustakaan bahkan sebelum perpustakaannya buka.

Perpustakaan kampus sih lain lagi ceritanya. Perpustakaan UCL School of Pharmacy mungkin menjadi tempat yang paling banyak saya kunjungi selama saya disini. Saya anaknya nggak bisa belajar di kamar karena godaannya banyak sekali, sebut saja tidur, makan, tidur, tidur, dan tidur. Oleh karena itu saya selalu kabur ke perpustakaan dan belajar atau mengerjakan tugas disana. Kalau lagi bosan ke School of Pharmacy, saya biasanya ke Main Library atau Science Library. Main Library-nya UCL megah sekali, kaya di cerita Harry Potter. Beberapa kali saya sempat juga ke British Library, yang aturan utamanya (menurut saya) adalah datanglah setengah jam sebelum perpustakaannya buka, kalau mau dapat tempat duduk.
British Library (sumber: bbc.co.uk)
UCL School of Pharmacy Library (sumber: ucl.ac.uk)

UCL Main Library (sumber: en.wikipedia.org)
 
Berebut tempat di perpustakaan adalah hal yang lumrah terjadi selama saya studi disini. Iya, walaupun perpustakaannya banyak, tetap saja semua orang rebutan! Apalagi kalau masa-masa mau ujian, beuh, dapet tempat di perpus sama susahnya kaya mencari lipstik merah yang kece.

Setahu saya, di Indonesia sendiri sudah mulai berkembang perpustakaan-perpustakaan yang dikelola oleh Pemerintah Daerah setempat. Saya pernah lihat di Cimahi sudah ada Perpustakaan Kota, Menurut saya hal seperti ini bagus sekali untuk menumbuhkan minat baca, plus juga meningkatkan akses masyarakat terhadap literatur bermutu.

Saya percaya banget sama kata-kata bahwa buku adalah jendela dunia. Iya, dengan membaca, kita bisa merasakan dunia yang belum sempat kita pijak dan rasakan. Jadi, mari pergi ke perpustakaan dan membaca!

Tuesday, 2 June 2015

[#NulisRandom2015] Day Two - Lipstick


I have a very serious problem with a small, colourful tube called lipstick. The problem can be described as severe, chronic addiction to buy and use lipstick. The main symptom is, obviously, never, can not get enough of lipstick.

Out of a bunch of make-up things, why lipstick, you ask? Well, simply because it's the fastest way to dramatically change your appearance. Every time I feel my face is not in a good shape and very pale, a simple, quick smear of lipstick will definitely makes it better. It will give colour to your face, makes you look more alive and of course, beautiful.

My affection to lipstick started when I realised that past job required an adequate make-up, since it involved public speaking. I remember, I asked my mom back then on how to choose, and to use lipstick. She chose a pink Revlon Just Bitten Kissable series for me, and yes, that was my first official lipstick (after years borrowing my mom's to be worn in special occasions).

Since that, I paid special attention to lipstick. I always carry one of my lipstick in my bag. And I start to think that it's a must have daily items, because you won't know when the colour starts to disappear. I tried different shades: pink, red, a bit purple-ish, nude colours, you name it. Every time I went to a shopping mall, cosmetic booths definitely will be my destination. Whether I buy the product or not, I don't really care. Even doing window shopping on lipstick can really makes me happy. This gentleman even said that I visited the same make-up booth thrice a month, he's been counting. LOL.

Some shades I own, under yellow-ish lighting

Taylor Swift's phenomenal red lipstick brought this addiction into different way: I craved for a red colour that can perfectly suits me. And I told you: it's hard! Finding a nice red lipstick is kind of searching for the right guy for the rest of your life. Okay, that's superlative. But you know what I mean, it is that hard. Even up until now I don't think I have found the most satisfied one. You have to take your complexion, your natural lip colour, and so many things into account to find your perfect red.

By far I've tried different brands, from the affordable ones to the one that made me had to live like a beggar for several weeks. I don't have preferences on one particular brand, even though I have to admit that one gives you more moisture, one gives you longer lasting colour, etc. And yeah, I prefer matte finishing, because my big lips won't look that nice in glossy looks.

Six out of nine lipsticks I own now are Revlon, and I love them because they're really affordable. They also have a broad range of shades, however they're not lasting that long in my lips and sometimes I think the colour is not that 'pop out' even after several layers of application.

My YSL rouge pur couture is my precious treasure. The glamourous feeling is undeniable when you wear it, it has a slight nice smell of a very classy perfume when you open the cap. It lasts for around 8 to 10 hours, even after some foods and drinks. But unfortunately it is not really hydrating, so a lip balm is a must before I applied it.

I am currently in love with Rimmel, a UK brand cosmetic. The Lasting Finish Lipstick colours are said to be chosen personally by Kate Moss. It is also very affordable, however the range of shades is not that broad. It's quite creamy and I like the packaging.

Another current baby for me is Bourjois rouge edition velvet. My friend Monica introduced them to me, and I (as expected) could not help but to reach one of them from the Superdrug's shelf. It gives a very intense colour with full coverage to lips. It comes as a liquid with applicator, which Monica said to be the plus point for Bourjois as you can apply the colour more neatly. And as its name says, it feels like a velvet in your lips, which I like.

I have to admit that lips moisture is a key to have model-look lipstick appearance. Thus, I always put a lip balm before I go to bed every night. Brush the lips gently with toothbrush is also helpful for me, as it drives out the dead lips layer. And surely, gives a day break to your lips is a must, to let them breathe in the 'fresh air' without any barrier.

As I said earlier, I still couldn't get enough. My next targets are MAC Diva and Topshop lipstick collection. Bobbi Brown is definitely also on the list, but maybe later, after some savings.

xx!

Monday, 1 June 2015

[#NulisRandom2015] Day One - Sarapan

Beberapa hari yang lalu beberapa teman saya share ajakan tentang menulis random alias apa saja setiap hari selama sebulan penuh. Hmmm, what a challenge! Tanpa pikir panjang saya pun membulatkan niat untuk ikutan. Sudah lama blog ini diam dalam kesendirian karena yang punyanya (sok) sibuk kuliah. Plus, ajang ini bisa jadi pemanasan untuk menulis disertasi. Yeah.

Hari pertama ini saya ingin menulis tentang sarapan. Simply because I just finished my breakfast. 



Hasil pengamatan saya terhadap beberapa orang di sekitar saya, ada beberapa tipe orang berdasarkan kebiasaan sarapan mereka. Tipe pertama adalah orang yang harus selalu sarapan. Biasanya, orang-orang ini sejak kecil selalu terbiasa sarapan, sehingga jika tidak sarapan, rasanya ada yang hilang dari diri mereka. Tipe kedua, adalah tipe yang pengen sarapan tapi nggak sempat. Saya banget. Kami lapar, kami tahu kami butuh sarapan, namun apa daya, waktu tak sampai. Tidur lima menit lebih lama di pagi hari itu nikmatnya berpuluh kali lipat dibanding bangun lima menit lebih awal untuk sarapan. Tipe ketiga, adalah orang-orang yang justru ogah sarapan. Beberapa bilang, sarapan malah bikin mereka mual kekenyangan dan mengantuk sehingga nggak bisa konsen belajar atau bekerja.

Saya pernah membaca beberapa jurnal ilmiah tentang manfaat sarapan pada berbagai usia. Dan hasilnya ternyata bervariasi! Ada penelitian yang bilang kalau sarapan itu nggak berpengaruh banyak sama performance di sekolah atau tempat kerja, ada yang bilang berpengaruh. Menurut saya sih hal ini lumrah, karena banyak faktor lain yang menentukan performance  selain sarapan. Misalnya, jumlah jam tidur. Jenis sarapannya itu sendiri seperti apa, usia... Jadi wajar kalau hasilnya tidak bisa digeneralisasi.

Seperti yang sudah saya bilang, saya termasuk tipe pengen sarapan tapi nggak sempat. Waktu saya masih tinggal bersama mama-papa sih saya pasti sarapan, karena mama saya adalah tipe ibu yang nggak akan membiarkan anggota keluarganya keluar rumah tanpa segelas susu, atau segelas Energen, plus dua roti tawar aneka isi. Saat saya ngekos, mulailah hari-hari tak pernah sarapan dimulai. Minum susu doang biasanya, diikuti beberapa potong gorengan berminyak asoy yang dibeli dalam perjalanan ke kampus. Luar biasa sekali! Seiring bertambahnya usia, saya sadar bahwa saya nggak bisa tiap hari hidup dengan ubi goreng untuk memulai hari kalau saya nggak pengen mati di usia dini karena myocardial infarction. Saya pun mencoba hidup sehat dengan membeli oat siap saji, kemudian saya simpan di laci kantor. Jadi walaupun saya nggak sempat sarapan di rumah, saya bisa sarapan di kantor. Hal ini cukup berhasil, hingga akhirnya saya bosan makan oat tiap pagi. Lalu saya beralih ke tukang bubur ayam depan kantor. Lumayan, variasi.

Sereal dan fresh strawberry, tentunya plus susu. Yummy!
Toast, omelette, yoghurt, and milk coffee.


Ketika saya tiba di UK, saya menjadi penggemar setia sereal dan susu. Susu di sini menurut saya enak dan fresh banget, plus harganya super terjangkau. Awal-awal datang, saya nggak terbiasa harus makan sereal dan susu dingin pagi-pagi (apalagi pas lagi winter), jadi saya selalu memanaskan sarapan saya di microwave  dahulu sebelum disantap. Sekarang sih saya sudah lebih bisa mentolerir minum susu dingin pagi-pagi. Omelet alias telur dadar juga menjadi pilihan saya buat sarapan disini. Versi super malas, saya kocok telor, kasih garam dan merica, lalu masukin ke microwave selama 40 detik. Jadi deh omelet. Hahaha...

Pilihan menu sarapan tidak bisa dipungkiri dipengaruhi juga oleh kebudayaan daerah setempat. Suatu kali saya ngobrol dengan teman saya yang berasal dari Belgia. Saya cerita, di Indonesia, nasi bisa menjadi pilihan sarapan. Dia terkejut banget, karena menurutnya nasi itu 'berat' banget, mengenyangkan, masa iya sarapan nasi. Dia lalu cerita kalau dia paling suka makan roti. Seperti halnya saya bisa makan nasi saat sarapan, makan siang maupun makan malam, dia juga bisa makan roti di setiap kesempatan. Saya bilang, saya nggak suka roti. Rasanya hambar, nggak enak deh menurut saya. Teman saya ini bilang, mungkin karena saya nggak makan roti yang bener-bener baru keluar dari oven, yang lembut banget saking fresh-nya, seperti yang ia selalu makan di Belgia. Ah, sepertinya dia benar! Roti tawar di Indonesia kan kebanyakan produksi massal di industri, jadi nggak begitu fresh. Beberapa hari belakangan saya jadi rajin makan roti tawar tiap pagi, pilih yang whole grain karena saya suka teksturnya, dengan topping unsalted butter dan madu.

Sejak jadi rajin sarapan, saya merasa saya lebih bisa konsentrasi dengan baik sepanjang hari. Plus penyakit maag saya jadi nggak sering kumat. Sekarang saya lagi menghitung hari untuk bisa kembali sarapan nasi kuning, bubur ayam, atau bacang. Rindu banget deh sama menu sarapan super-karbo itu.

Nah, ini cerita sarapan saya. Kalau kamu?

Banana, oat crumbles, and honey.

Wednesday, 21 January 2015

Tentang Kembali Pulang

Postingan ini ditulis di UCL School of Pharmacy's Library, di saat dimana saya harusnya ngerjain sekitar 5 (lima) tugas yang harus dikumpulkan. Tapi tiba-tiba pengen menulis disini, dan menurut mentor saya sih sebaiknya janganlah menunda keinginan untuk menulis, or else the present idea will end up as nothing.

Ceritanya term ini saya mengikuti satu mata kuliah yang berjudul International Perspective of Health atau biasa disingkat IPH. Saya suka kuliah-kuliah yang diberikan untuk mata kuliah ini, dan sesuai judulnya, semua kuliah kurang lebih bercerita tentang kesehatan sebagai suatu sektor yang penuh dengan dinamika (bisa juga diartikan sebagai masalah :p), termasuk mengenai sistem penyediaan kesehatan itu sendiri. Masih ingat kan cerita saya bahwa kelas saya terdiri dari 22 mahasiswa dari 19 negara, so it is very interesting to know how other countries in this world manage their citizen's health. Of course, the main focus of the course is the pharmaceutical matter, kan kami semua pharmacist alias apoteker.

Salah satu tugas berat yang diberikan untuk mata kuliah ini adalah 'a business proposal about a pharmaceutical care service needed by your home country'. Tiga aspek utama yang membuat tugas ini begitu hebring: business (sudah jelas I know literally nothing about financial and marketing stuff. Ketahuan banget jaman kuliah apoteker dulu selalu ngantuk), needed by your home country (lah kayanya kebutuhannya banyak banget sampai bingung milihnya), dan tentunya karena nilai saya sepenuhnya ditentukan dari si paper ini. No exam. Just this 5000 words paper and a 10 minutes presentation will determine my future (dramatis lebay). Dan dari ketiga aspek tersebut, aspek nomor dua adalah aspek yang bikin saya 'gatel' pengen nulis postingan ini.

Yes, it's about my home country. Banyak sekali orang yang bilang saya idealis karena punya cita-cita ketinggian semacam 'memajukan sistem kefarmasian di Indonesia'. Tapi saya selalu bilang sama mereka semua kalau saya pasti bisa. Pinjam istilahnya nona ini, 'kalau mimpi aja nggak berani, apalagi bertindak nyata'.

Semua idealisme saya rasa-rasanya makin termanjakan sejak saya datang kesini, ke negara yang sistem kefarmasian (dan kesehatan secara umum)-nya sudah sedemikian maju, ke universitas dengan sejuta fasilitas yang bisa diakses dengan sentuhan tangan di laptop atau gadget. Pun dengan orang-orangnya, 90% orang yang saya temui disini adalah orang-orang dengan optimisme tinggi. Kalau saya debat dengan mereka dan nada-nada negatif penuh pesimisme mulai keluar dari mulut saya, mereka malah akan mengernyitkan dahi seolah berkata 'there's no such thing as impossibility'. Semua hal-hal tersebut membuat saya semakin mantab dengan pemikiran bahwa cita-cita saya bisa terwujudkan.

Namun akhir-akhir ini saya mulai sering mempertanyakan ke-percaya diri-an saya sendiri. Membuat analisis SWOT untuk tugas yang saya sebutkan tadi membuat saya terpana karena kolom T memuat banyak sekali poin yang, menurut saya -- sampai dengan tulisan ini dibuat, adalah hal yang sulit untuk dicari solusinya, atau ada solusinya tapi tingkat keberhasilannya minimal. Hubungan interpersonal dengan sesama tenaga kesehatan, kebijakan (dan anggaran)  negara untuk bidang kesehatan (tak usahlah saya menyebutkan empat huruf itu disini), budaya resistensi dalam menerima perubahan, kualitas SDM, itu beberapa yang saya pikirkan.

Saya sadar bahwa mungkin saja semua yang saya pikirkan di atas tidaklah seburuk kenyataannya, tapi tetap saja saya jadi berpikir tentang hal yang akan saya hadapi saat saya pulang ke tanah air tercinta nanti. Berhadapan dengan sistem yang belum ajeg, dengan pola pemikiran yang cenderung sempit dari beberapa kepala, dan dengan segala keterbatasan (saya sebenarnya nggak sampai hati menulis 'keterbatasan' karena berkonotasi buruk, tapi 'limitasi' hanyalah bentuk serapan yang bermakna sama, jadi saya memilih yang pertama). Contoh paling gampang saja, akses literatur. Artikel yang baru banget kemarin keluar bisa diunduh dalam hitungan detik disini, textbook edisi terbaru tersedia dalam jumlah mumpuni di perpustakaan. Tak usahlah saya menyebutkan keterbatasan tersebut sampai ke ranah penghargaan material bagi sebuah profesi, karena saya sudah legowo (sambil tepok-tepok dada liat nominal gaji jurusan sebelah) dari entah kapan bahwa profesi yang saya pilih ini setengahnya adalah kerja sosial. Contoh lain yang menurut saya krusial adalah support. Dukungan. Dari siapa saja, mulai dari rekan sejawat hingga masyarakat pada umumnya. Dukungan moril untuk mewujudkan sesuatu yang dianggap nggak mungkin.

Lalu kemudian saya takut idealisme saya akan pupus seiring waktu saat saya kembali pulang nanti. Karena saya tidak cukup tabah dan kuat hati. Karena sisi manusia saya (atau bisa disebut egoisme) berteriak lebih keras dari sisi manusiawi (humanity) saya.

Tapi ada satu hal yang membuat saya tersenyum. Hasil mengobrol dengan kawan-kawan satu tanah air, terutama yang berasal dari beasiswa yang sama, membuat saya menarik kesimpulan bahwa saya tidak sendiri. Ada banyak anak muda lain yang ingin sistem negara tercinta bisa lebih baik. Dalam hal apa saja, tidak hanya kesehatan. Mengobrol dengan beberapa rekan sejawat yang berpandangan sama dengan saya juga sangat-sangat menyenangkan, brainstorming sessions dalam bentuk e-mail panjang selalu menguatkan saya.

Mungkin kegalauan ini adalah fase yang memang harus saya lewati sebagai bagian dari dinamika hidup manusia, dan semoga hal-hal kurang baik yang saya bayangkan tidak akan benar terjadi. Biar bagaimanapun, kembali pulang memang adalah hal yang saya rindukan. Selain karena cita-cita luhur seperti yang saya utarakan di atas, juga karena saya kangen sama semua gorengan plus cabe rawit, pecel lele, dan buah pepaya yang dipotong-potong lalu diberi perasan lemon di atasnya!

-London, 20 Januari 2015
 


Sunday, 18 January 2015

Ketika Term 1 Usai

London, 17 Januari 2015. Selamat tahun baru (yang sangat terlambat) semuanya! Sudah hampir 4 bulan saya berada di negara ini, dan pencapaian saya dalam hal menulis blog ini sangat minim. Memalukan memang, hahaha.

Saat saya menulis postingan ini, saya sedang melalui minggu pertama saya di Term 2 kuliah Master ini. Whoa, time flies! Rasanya baru kemaren saya membongkar koper saya saat pertama datang ke London, dan sekarang Term 1 sudah saya lewati.

Term 1, sebagai term pembuka, tentunya menawarkan banyak cerita. Adaptasi, itu hal pertama yang saya hadapi ketika Term 1 dimulai. Gimana nggak, sudah dua tahun nggak mengecap bangku kuliah, eh sekarang harus kembali menjadi mahasiswa dengan kondisi everything in English pula! Syukurlah saya sekolah di London, dimana orang-orangnya mempunyai British accent yang cukup understandable. Pace dan intonasi para dosen dalam mengajar pun cukup bisa diikuti, sehingga saya sama sekali tidak pernah menggunakan voice recorder yang saya siapkan dari Indonesia dengan tujuan untuk merekam kuliah.

Kelas yang saya ikuti adalah suatu international class, 22 orang mahasiswa di program ini berasal dari 19 negara di 5 benua di dunia. Can you imagine how amazing our class is? English is not first/native language for most of us, jadi kami saling membangun satu sama lain. Suatu kali saya pernah curhat sama beberapa teman sekelas bahwa saya cukup nervous untuk melakukan presentasi dalam bahasa Inggris untuk suatu mata kuliah, dan jawaban mereka membuat saya happy: 'Why should you worry about it? Your English is good!'. Yay! Saya jadi semakin bersemangat!

Term 1 diwarnai oleh taught sessions, oral presentations, writing assignments, dan tentunya clinical placement. Taught sessions yang diberikan meliputi farmakoterapi untuk beberapa penyakit yang menjadi prioritas WHO, juga tentang pharmaceutical care (terutama tentang role of pharmacist), dan mengenai critical appraisal. 

Diabetes, cardiovascular, respiratory, dan infectious diseases adalah makanan sehari-hari saya selama Term 1 ini. Saya memang punya ketertarikan terhadap pharmaceutical care di area cardiovascular diseases alias penyakit jantung dan pembuluh darah, sehingga kuliah-kuliah yang berat tetap saya lakukan dengan semangat. Pemahaman mengenai terapi penyakit-penyakit tersebut makin diperkuat karena kami harus menjalani clinical placement, dimana kami melakukan kunjungan ke rumah sakit yang ada di London dan mendalami peran layaknya clinical pharmacist di rumah sakit tersebut. Saya mendapatkan tempat clinical placement di Imperial College Hospitals NHS Trust, dengan penempatan utama di Charing Cross Hospital, tapi terkadang saya juga pergi ke Hammersmith Hospital dan St. Mary's Hospital.

Apa saja sih yang saya lakukan di rumah sakit? Ya itu tadi, belajar menjadi seorang clinical pharmacist. Saya pergi ke ward alias bangsal tempat pasien dirawat, membaca clinical notes mereka untuk mengetahui penyakit yang sedang dialami oleh pasien tersebut, kemudian dari situ belajar menentukan terapi apa yang tepat digunakan untuk masing-masing pasien. Yup, untuk masing-masing pasien! Setiap pasien memiliki karakteristik sendiri dari segi fisiologis dan anatomi, sehingga terapi yang diberikan pun akan sesuai dengan kondisi per individual. Contohnya, pasien dengan kondisi hipertensi sebaiknya mendapatkan obat dari golongan ACE-inhibitor untuk mengontrol tekanan darah mereka, tapi ada beberapa pasien yang intoleran dengan efek samping batuk yang ditimbulkan oleh ACE-inhibitor sehingga mereka akan menggunakan obat antihipertensi golongan ARB untuk kondisi mereka. Dan selama penggunaan obat-obatan dari kedua golongan tersebut, kadar kalium di dalam darah pasien harus senantiasa dipantau karena kedua golongan obat tersebut memiliki efek samping hiperkalemia.

Sebagai student saya tentu tidak punya hak untuk semena-mena mengubah terapi pasien-pasien tersebut, namun saya bisa berdiskusi dengan clinical pharmacist yang ada di sana.  Banyak sekali pembelajaran yang saya dapatkan selama saya placement di rumah sakit, terutama ketika saya harus memilih satu orang pasien untuk kemudian saya jadikan studi kasus. Studi kasus saya yang pertama adalah tentang penanganan hipoglikemia pada seorang pasien diabetes mellitus type 2. Obat-obatan diabetes mellitus atau DM memang memiliki efek samping hipoglikemia, sehingga dalam studi kasus yang saya kerjakan saya belajar bahwa penyesuaian dosis obat anti-DM dapat membantu mengatasi hal tersebut, sambil tentunya tetap menjaga agar pasien berada dalam kondisi euglikemia dan terhindar dari komplikasi-komplikasi diabetes mellitus. Studi kasus kedua saya adalah tentang anemia pada pasien gagal jantung atau heart failure. Sebelum masuk ke rumah sakit, pasien tersebut tidak mendapatkan terapi untuk kondisi anemia-nya, padahal anemia sendiri dapat memperburuk kondisi gagal jantung yang ia alami. Di kasus ini saya belajar memilih terapi yang tepat untuk kondisi anemia pasien tersebut, sambil memperhatikan bahwa pasien tersebut sudah berusia cukup lanjut sehingga fungsi organnya mungkin sudah mengalami penurunan.

Sounds interesting, isn't it? It is, indeed! Walaupun sangat tidak mudah mengerjakan kasus-kasus tersebut, terlebih karena saya sebagai pharmacist dituntut untuk mengedepankan evidence-based medicine practice, alias pemilihan terapi berdasarkan fakta ilmiah dari penelitian yang sudah dilakukan. Dan berbicara mengenai evidence-based practice sendiri, kita tahu bahwa jurnal penelitian ilmiah yang beredar di luar sana jumlahnya sangat banyak, puluhan ribu jurnal tersedia. Oleh karena itu para healthcare professionals membutuhkan kemampuan critical appraisal yang mumpuni. Di Term 1 ini saya juga mendapatkan kuliah mengenai critical appraisal ini, dimana saya harus melakukan assessment terhadap suatu jurnal ilmiah untuk menentukan apakah penelitian yang dilakukan di jurnal tersebut akan memberikan benefit bagi pasien yang saya 'tangani'. Misalnya nih, suatu jurnal yang meneliti efek obat A, yang menurut data metabolismenya terkait dengan fungsi hati, untuk penyakit tertentu, hasilnya adalah obat A bermanfaat dalam menangani penyakit tersebut. Tapi kalau kita baca lebih lanjut, ternyata pasien-pasien dalam penelitian tersebut mempunyai fungsi hati yang normal, sedangkan pasien yang kita tangani memiliki fungsi hati yang terganggu. Akhirnya, hasil dari penelitian tersebut tidak dapat serta merta kita terapkan pada pasien tersebut. Oh iya, saya menggunakan CASP tool sebagai alat bantu melakukan critical appraisal untuk suatu jurnal, dan cukup membantu kok :)

Pengalaman menarik yang terjadi sewaktu clinical placement adalah saya mendapatkan kesempatan untuk berinteraksi langsung dengan pasien. Clinical pharmacist memang bertugas untuk melakukan wawancara drug history atau riwayat penggunaan obat pasien tersebut sebelum ia masuk rumah sakit. Drug history taking ini bertujuan untuk melakukan rekonsiliasi terapi obat yang dilakukan oleh pasien, dan menentukan apakah terapi tersebut akan dilanjutkan karena indikasinya masih berhubungan dengan kondisi pasien saat ini, ataukah dihentikan karena indikasi obat tersebut sudah tidak cocok lagi. Oh iya, di UK pasien disarankan membawa semua obat-obatan yang biasa ia gunakan di rumah bila ia masuk rumah sakit, terutama untuk pasien-pasien penyakit kronis yang memang mengkonsumsi obat-obatan dalam jangka panjang. Menurut saya sih hal ini bagus banget, karena bisa menekan biaya penggunaan obat juga. Misalnya nih, pasien diabetes mellitus yang mengkonsumsi metformin secara rutin, daripada biaya pengobatan bertambah karena ada resep baru untuk metformin, lebih baik ia membawa metformin yang biasa ia gunakan. Apalagi di negara dengan konsep asuransi kesehatan yang berasal dari pajak seperti UK, optimalisasi biaya pengobatan melalui cara-cara demikian sangat dipentingkan.

Melakukan drug history taking ini sangat menyenangkan sekaligus menantang menurut saya. Pertama, lagi-lagi karena saya dituntut berbicara dalam bahasa Inggris yang polite karena yang saya hadapi adalah pasien, dan tentunya hal ini juga mengasah kemampuan listening saya. Beberapa pasien usianya sudah tua, mereka kadang lupa obat apa saja yang mereka gunakan. Beberapa pasien lagi malah sangat antusias karena ada yang mengajak mereka mengobrol, dan drug history taking yang harusnya hanya berkisar dari 5 hingga 10 menit bisa menjadi obrolan panjang berdurasi 30 menit, termasuk cerita pasien tersebut mengenai kejadian 'heroik' hemodialisis di sebuah bus padat penumpang di Karibia menggunakan alat peritoneal dialysis miliknya (I miss you my cheerful Mr. S, you are such a nice person)

Saat seorang clinical pharmacist berbicara dengan pasien, ia juga dapat menanyakan apakah pasien tersebut mengalami efek samping obat yang mengganggunya atau tidak. Pharmacist juga bertanggung jawab memberikan konseling mengenai penggunaan obat pasien saat pasien tersebut akan pulang dari rumah sakit.

Kesimpulan yang saya dapatkan dari hasil menjalani clinical placement ini adalah bahwa pharmacist di UK diterima dengan cukup baik oleh rekan-rekan sejawat dokter dan perawat, karena mereka memang mampu memberikan service yang mendukung kerja health care professionals yang lain. Mereka berdiskusi dengan dokter mengenai terapi, dan mereka paham betul tentang terapi pasien. Belajar tiada henti, dari pengalaman, dari kasus, dari sesama kolega. Itulah yang dikatakan tutor saya saat saya mengakui bahwa saya cukup overwhelmed dengan semua hal yang harus dilakukan untuk menjadi seorang clinical pharmacist yang mumpuni.

Kejadian menarik lain di Term 1 ini adalah saya berkesempatan berbincang-bincang dengan Chief of UK Clinical Pharmacy Association, Mr. Mark Borthwick, di kantornya di John Radcliffe Hospital, Oxford. Kedatangan saya sebenarnya lebih ke arah berbincang mengenai topik disertasi saya, karena project yang akan saya lakukan sedikit banyak adalah 'meneruskan' project yang dahulu pernah beliau lakukan. Tapi kesempatan tersebut tentunya saya manfaatkan juga untuk mengobrol dengan beliau soal dunia clinical pharmacist sendiri. Saya bercerita mengenai kondisi di Indonesia dimana apoteker kebanyakan hanya melakukan kegiatan dispensing saja, sangat sedikit dari mereka yang bersinggungan langsung dengan pasien. Di luar dugaan saya, Mark berkata bahwa di UK sendiri pun masih banyak health care professional yang tidak 'ngeh' dengan keberadaan pharmacist. Jadi, sang pharmacist itu sendirilah yang bertanggung jawab membuat dirinya dikenal banyak orang. Bagaimana caranya? Offering service. And since pharmacist is a medicine expert, the service should be on optimising the use of medicine itself. Satu hal lagi yang beliau katakan pada saya. Change is not done in one quick time, it needs process. And it started with one or two people who want that change to be happened. Ngena banget, dan mengingatkan saya kepada alasan mengapa saya ada disini. Ngomomg-ngomong, hal senada juga pernah diungkapkan Professor Barry Jubraj saat beliau menyampaikan kuliah mengenai Role of Pharmacist in Hospital, bahwa you couldn't change the world, but (at least) at the time you die, you'll make difference(s).

Whoa, it turns out to be a long post one! Terimakasih kepada hazelnut latte dan Costa Camden Road (kece banget tempatnya, di pinggir sungai) yang menemani saya menulis semua ini. Semoga saya selamat secara akademik dalam melewati term-term berikutnya.

Salam manis dari London (yang selalu PHP katanya bakal salju tapi nggak saljuan terus)!

Saturday, 15 November 2014

'Gue pengen sekolah lagi!'

Kata-kata 'Gue pengen sekolah lagi!' rasanya sudah cukup sering saya katakan sejak saya lulus Apoteker dua tahun lalu. Biasanya kata-kata itu rajin terlontar jika 1) saya sedang jenuh bekerja, 2) saya sedang iri hati melihat foto teman-teman Facebook yang sedang kuliah di luar negeri, dan 3) saya memang sedang di jalan yang benar: ingin menimba ilmu.

Belajar buat saya adalah pekerjaan paling asyik di dunia. Gimana enggak, duduk manis, buka literatur, tenggelam dalam indahnya ilmu pengetahuan, dan kemudian jadi pintar. Maka dari itu, saya rindu sekali dengan bangku sekolah. Walaupun saya sama sekali nggak rindu sama ujian-ujiannya sih terutama ujian Apoteker ITB yang astaganaga banget susaaaaahnya.

Setahun pertama kerja, saya sama sekali nggak serius memikirkan soal rencana sekolah lagi ini. Saya terbuai banget dengan kenikmatan punya duit sendiri, kartu debit yang bisa digesek bahkan cuma buat beli yoghurt di minimarket, dan terutama jalan-jalan kemana-mana. Tapi, suatu hari di bulan Juli 2013, saya mulai mengubah omongan 'Gue pengen sekolah lagi!' menjadi sesuatu yang pasti.

Semuanya dimulai ketika saya, yang pagi itu sedang sarapan di sebuah hotel di Kota Solo (biasa, kerjaan), tiba-tiba iseng membuka browser dan mengetik 'Master Clinical Pharmacy' di tab pencarian. Yup, itu jurusan yang saya inginkan untuk pendidikan lanjutan ini. Seperti sudah diduga, mesin pencari menunjukkan ribuan entry, dan hasil pencarian teratas adalah website-website perguruan tinggi di seluruh dunia. Saya buka satu persatu entry teratas, baca-baca sekilas, hingga akhirnya saya tiba di website ini. Sungguh, saat itu saya langsung mengeluarkan notes dan pena saya, mencatat alamat website tersebut, melingkari tulisan saya tersebut dan memberikan kalimat 'ini menarik banget sumpah!' di sebelah lingkaran tersebut.

Dan sejak saat itu, tujuan saya bulat untuk daftar ke program MSc Clinical Pharmacy, International Practice and Policy di University College London. Bahkan dengan gaya (atau nekat?)-nya saya sama sekali nggak menyiapkan pilihan kedua. Bukan apa-apa, saya merasa jurusan yang lain nggak begitu ngena di hati saya. Buat apa saya sekolah sesuatu yang saya nggak sukai? Ngomong-ngomong, saya baru tahu kemudian jika universitas tujuan ini masuk dalam daftar lima perguruan tinggi terbaik tingkat....... dunia. Ketawa miris banget saat tahu fakta itu!

Eh, kenapa harus di luar negeri sih Ties? Pengen nyari bule? Pengen gegayaan? Nggak. Jawabannya sesederhana saya pengen merasakan secara langsung sistem kefarmasian, terutama bidang klinis, di negara yang sudah maju. Biar nanti saat saya pulang ke negeri tercinta, saya tahu apa yang harus saya lakukan supaya kefarmasian klinisnya nggak kalah yahud sama negara-negara maju tersebut. Yah, jelek-jelek gini, saya cukup idealis soal ilmu dan penerapannya. Hehe.

Setiap hari saya buka website program tersebut, sampai-sampai hapal sama semua persyaratannya. Yah, nggak ada yang mudah. Haha, ya iyalah. Yang pertama dan terutama tentunya adalah motivational letter, atau yang biasa saya singkat dengan motlet. Motlet ini, menurut hemat saya, adalah kunci paling kunci dari syarat pendaftaran kuliah Master. Motlet ini semacam essay yang menggambarkan siapa kita, background pendidikan dan riwayat pekerjaan kita yang related sama bidang Master yang mau kita apply, future goal yang ingin kita capai terkait bidang tersebut, kenapa kita cocok untuk dipilih menjadi mahasiswa program tersebut, dan tentunya kenapa kita memilih program tersebut. Saya, dengan segala keterbatasan-namun-tetap-harus-perfeksionis, mulai menulis motlet saya sekitar bulan September 2013 dan selesai di bulan....... Desember 2013. Hahaha... Iya, 3 bulan lebih untuk dua halaman essay!  

Meskipun kedengarannya bikin males, namun saya menikmati sekali proses ini. Saya yang waktu itu masih jomblo biasanya mengerjakan motlet tersebut setiap weekend. Tempat favorit? Pojokan Starbucks Bintaro Sektor 9, ditemani segelas hazelnut latte (biasanya grande. Udah nggak mempan sama ukuran tall doang). Pembuatan motlet ini saya mulai dengan riset kecil-kecilan soal bidang yang ingin saya tekuni (harus banget hukumnya kita paham sama bidang yang kita mau tekuni), terutama update terbaru soal keilmuan di bidnag tersebut. Kemudian, tentunya drafting. Mulai menulis (dengan segala keterbatasan dalam bahasa Inggris), hapus, nulis lagi, hapus, gitu seterusnya. Proofreader(s) mutlak ada banget! Soalnya kita harus memastikan orang lain paham sama apa yang kita tulis. Bersyukurlah saya, dikaruniai teman-teman yang sangat sangat baik hati yang mau proofread motlet saya, apalagi mbak ini yang berhasil mengubah bahasa Inggris ala anak kelas 3 SD yang saya buat menjadi rangkaian kata-kata yang sophisticated. Couldn't thank you enough, Yot.

Sambil bikin motlet, sambil mengusahakan recommendation letter juga dong! Program yang saya tuju mengharuskan saya mendapatkan satu letter dari dosen semasa kuliah, dan satu letter dari pimpinan tempat saya bekerja. Nah, karena ini berhubungan sama orang lain, yang tentunya juga sibuk dengan pekerjaannya, maka dari jauh-jauh hari kita sudah harus sounding dulu sama beliau-beliau. Saya sih tipe orang yang sukanya tatap muka, jadi waktu saya mau minta tolong dosen saya buat memberikan rekomendasi untuk saya, ya saya bela-belain pergi ke Bandung untuk bertemu beliau. Mendapatkan recommendation letter ini memang gampang-gampang-susah, tapi kuncinya adalah pada komunikasi interpersonal yang baik deh.

Syarat 'heboh' berikutnya adalah kemampuan berbahasa. Karena saya pengen kuliah di Inggris, saya harus tes IELTS. Perjuangan selengkapnya tentang persiapan saya menuju tes IELTS bisa dibaca di postingan ini (ngiklan). Saya segitu nggak pedenya dengan kemampuan saya, jadi saya belajar dimana-mana, bahkan di pesawat terbang kalau sedang berdinas.

Menyiapkan semua hal tersebut nggak mudah, apalagi karena saya bekerja, Saat-saat menyerah bahkan pernah datang pada saya, saat ada sandungan yang membuat saya nggak bisa melangkah maju, apalagi mendaftar. Selama beberapa minggu saya sama sekali nggak menyentuh hal-hal soal sekolah ini, dan kerjaan saya cuma ngomel-ngomel aja. Sampai suatu sore, saat sedang berenang dengan Mbak Anis, kakak senior terbaik di mantan kantor saya dulu, saya merasa 'ditampar' dan jadi gearing up lagi buat bisa sekolah. Sore itu saya sibuk curhat sama Mbak Anis tentang 'Gue pengen sekolah lagi!' ini, disertai dengan omelan-omelan tentang betapa menderitanya hidup saya karena satu dan lain hal eksternal yang menghalangi jalan saya. Saat itu saya berharap dapat puk-puk dari Mbak Anis, tapi kakak cantik saya itu malah berkata 'Kamu tuh nggak pantas ngeluh. Kamu belum mulai perang, udah takut duluan'.

Mbak Anis nggak sedang memarahi saya, tapi saya bersyukur karena Tuhan menyadarkan saya lewat kata-katanya. Iya, betul! Saya tuh baru wacana aja pengen sekolah lagi, tapi belum ngapa-ngapain! Sambil terus berdoa, saya kembali giat berusaha. Dan akhirnya, suatu hari di bulan Januari 2014, dengan tangan gemetar saya meng-klik tombol 'Submit application' di website UCL. 

Sekitar seminggu kemudian, saya dapat e-mail dari School of Pharmacy-nya langsung, isinya memberitakan bahwa aplikasi saya sudah diterima, dan...... mereka minta saya submit another essay, kali ini topiknya sesuatu yang sangat fundamental tentang kefarmasian. Ketawa miris lagi. Duh Gusti, mau sekolah susah banget yo. Essay kali ini beres dalam waktu tiga hari, kembali merongrong ibu ini untuk proofread. Plus Mbak Anis juga buat konten-nya, saya inget banget diskusi sama Mbak Anis di Solaria Lotte Mart Bintaro hahaha...

Essay kedua pun dikirim, tapi saya nggak perlu menunggu lama untuk kecewa. Pihak sekolah menyatakan aplikasi saya masih akan dipertimbangkan dan dibicarakan dahulu dengan Director of Programme-nya, karena satu dan lain hal. Membaca e-mail tersebut membuat saya menangis, jujur saja. Bukan karena sedih tidak diterima di universitas tersebut, tapi karena saya tiba-tiba merasakan semua kelelahan jiwa dan raga selama menyiapkan pendaftaran, hanya untuk ditolak. Memang sih mereka nggak menyatakan kalau saya fix 100% ditolak, tapi kata-kata dalam e-mail tersebut sangat menggambarkan bahwa probabilitas saya dapat diterima hanyalah 20-30%.

Hari demi hari berlalu, saya pun sudah move on. Kata-kata 'Gue pengen sekolah lagi!' sedang tertidur di pojok hati yang paling dalam. Saya sibuk kembali dengan pekerjaan. Hingga suatu malam, saat sedang bertelepon ria dengan mas-mas ini, saya menerima sebuah e-mail. Dari UCL. Hati ini rasanya langsung berpindah ke mata kaki begitu membaca sender-nya. Saya baca, dan lemaslah kaki ini.

I got conditional offer. From the programme of my dream.

Hanya tinggal mengirimkan hasil IELTS saya, jadilah statusnya unconditional offer. Rasanya saat itu badan saya berubah seperti jeli, terlalu sulit untuk diam tegak. Tidak henti-hentinya saya bersyukur, sambil cubit-cubit diri sendiri, karena sesungguhnya bahkan dengan status 'dipertimbangkan' tuh ini semua terlalu manis bahkan untuk sebuah mimpi.

*

'Gue pengen sekolah lagi!' adalah titik awal dimana saya merumuskan mimpi ini. Namun seperti apa yang dikatakan Mbak Anis, ngomong 'Gue pengen sekolah lagi!' seribu kalipun tidak akan membuat saya sekolah, jika saya tidak berusaha. Niat tidak akan pernah bermakna jika ia diam saja disana, tanpa pupuk untuk menjadikannya nyata.

Dan disinilah saya, kedinginan di suhu 10 derajat kota London, menulis semua ini, suatu refleksi indah dari perjalanan saya. Terimakasih Tuhan. Terimakasih Mamah, Papah, dede. Terimakasih teman-teman caem, Terimakasih mas. Gimanapun, dukungan doa dan semangat dari kalianlah yang membuat saya ada disini.....

Baiklah, kembali pada essay. Hah, essay lagi? Iyalah, perjuangan yang sesungguhnya justru baru dimulai saat kuliah, bukan sebelumnya!