Showing posts with label airplane. Show all posts
Showing posts with label airplane. Show all posts

Wednesday, 18 June 2014

Me and (so called) Airport Fashion


I'm not a devoted full-time fashionista, but I do care about my daily appearance. Iyalah, sebagai cewek pada umumnya, saya akan meluangkan sedikit waktu untuk memikirkan what to wear, head to toe.

Menilik fakta bahwa saya adalah karyawati biasa-biasa-saja di suatu perusahaan yang mengharuskan employee-nya menggunakan seragam dari hari Senin hingga Kamis, harusnya persoalan outfit of the day bukanlah masalah besar buat saya. Tapi namanya juga cewek, tetep aja saya suka ribet mengenai hal ini, especially when it comes to the fact that I am an airport(s)-frequent guest.

Yes, airport fashion. Saya pertama kali mengetahui term ini karena saya fans berat salah satu Korean girl group, SNSD. Nah, the ladies of SNSD ini selalu tampil amazingly fashionable setiap kali mereka ada di airport untuk flight ke tujuan-tujuan konser/pemotretan/aktivitas apapun. Designer items head to toe, from baseball cap to sunglasses and even their iPhone cases, airport fashion menjadi salah satu ajang mereka untuk brand endorsement sekaligus membuktikan kekecean style mereka whenever they are, including on the departure time.

source: http://snsdoverload.blogspot.com/
My forever favorite from the 9: Jessica.
Her airport fashion is simple yet gorgeous, and her arrogant face makes the outfit even better!
Sejak beberapa tahun lalu, airport fashion adalah sesuatu yang common, nggak cuma di dunia Kpop saja. Silakan berkunjung ke airport-airport di Indonesia and you'll see people in the most updated style wait for their flights. Kece abis, istilah saya sih.
Hollywood's airport looks.
source: http://www.fashionfoiegras.com/2010/01/celebrity-airport-style.html
 Some people might think it is unnecessary, ngapain coba heboh-heboh dandan mau naik pesawat doang. Ngapain juga pake heels, kesandung bangku pesawat baru tahu rasa deh. Tapi, kalau kita lihat dari sudut pandang yang lain (my own POV, actually, haha), ada banyak alasan untuk tampil stylish di airport.

Sebagai karyawati yang kunjungannya ke airport sudah barang tentu untuk bekerja, saya sering merasa salah tingkah kalau pakai baju santai macam jeans dan kaus oblong biasa. Yup, simply because I'm on duty. Untuk tujuan ini, formal outfit yang paling sering saya gunakan di airport tentunya seragam kebangsaan: kemeja biru atau putih, celana atau rok dan blazer biru dongker. Dengan berpakaian seragam, lengkap dengan sepatu yang sesuai (usually I wear my 5-cm-heels, not the stiletto one, of course), saya merasa lebih percaya diri dan tidak saltum alias salah kostum. Terutama jika dapat penerbangan dengan maskapai ini, yang mostly penumpangnya adalah orang-orang yang juga on duty dan berpakaian rapi, serta biasanya sudah berumur. Dengan menggunakan formal outfit, saya merasa ada rasa profesionalisme yang tercermin dalam appearance saya, so that I could tell them that 'hey, don't (always) judge me by my age!'. Haha, hebring amat ya. Tapi kira-kira seperti itulah. Kebosanan yang kadang melanda karena berpakaian seragam yang gitu-gitu aja cukup disiasati dengan aksesoris: kalung dan gelang adalah andalan utama saya. Accessories are small things that really work for appearance-booster!

Selain outfit, tampilan muka alias make up juga menjadi perhatian saya. Habis rasanya kurang aja gitu kalau bare-faced pergi kemana-mana, apalagi biasanya setelah landing di destinasi tujuan saya akan segera meluncur ke tempat bekerja. Kalau lagi dapat flight subuh dan harus berangkat jam 3 pagi dari kosan, ya saya akan bangun jam 2 subuh buat dandan. Sounds so crazy, yes? But I enjoy it. Minimal sih pakai BB cream dan bedak dan lipstik, biasanya ini edisi malas. Kalau edisi sregep alias rajin, ya lengkap aja sama eye makeup. Sampai di tempat tujuan juga biasanya WC adalah tempat pertama yang saya tuju, selain untuk buang hajat, juga untuk cari cermin buat benerin makeup dan menghapus minyak-minyak dengan kertas minyak. By the way, dari pengalaman-pengalaman saya, wearing mascara while on board is a big no. Entah kenapa kalau ketiduran di pesawat bakal ada bekas-bekas maskara yang agak ganggu di kelopak mata bagian bawah.

Saya bukannya nggak pernah 'nakal'. Beberapa kali saya cuek pakai celana pendek dan T-shirt pas flight, bisanya kalau flight saya hari Minggu (hey, that's originally my holiday!). Tapi selalu ada perasaan rikuh, nggak nyaman, saat masuk lounge atau pesawat (again, apalagi kalo naik maskapai ini) dengan outfit kaya gitu. Sekarang sih saya udah jarang tampil cuek beybeh gitu, kalaupun mau tampil santai minimal saya pakai dress selutut atau atasan yang sedikit 'manis' macam babydoll. After all, mau hari Minggu pun, ini judulnya tetap business trip, so saya pikir berpakaian dengan tema menjaga business things tetap baik bagus juga buat dilakukan.

By the way, seragam tersayang sering menjadi jebakan batman juga buat saya. Paling sering sih ketemu petinggi-petinggi perusahaan yang juga lagi flight. Kadang ketemu beberapa user produk juga yang easily recognized me and my job from this uniform, haha. Kalau udah begini biasanya saya selalu sigap senyum dan langsung behave (contoh: nggak ngambil makanan dengan rakusnya di lounge).

After all, doing airport fashion menurut saya adalah masalah mendongkrak kepercayaan diri. Kenyamanan kadang menjadi nomor dua, saya akui iya. Saya pribadi sih tetap prefer to wear heels than sneakers, simply karena saya merasa lebih pede memadukan business suit dengan heels, despite of kaki saya pegel-pegel seharian pakai heels. Nggak usah branded juga dari atas sampe bawah, yang penting tetap rapi dan enak dilihat. Lastly, semuanya kembali ke kenyamanan dan kepedean masing-masing individu untuk mengenakan pakaian saat bepergian dengan pesawat terbang ini.

Happy traveling!


Monday, 16 June 2014

My Daily Menu: Flight's Delay!

source: patdollard.com
Sebagai seorang karyawati yang sering mendapat mandat untuk bekerja di daerah-daerah yang harus ditempuh menggunakan moda pesawat terbang, salah satu menu harian saya adalah menghadapi musuh-dalam-selimut bernama delay alias penundaan atau keterlambatan jadwal penerbangan dari jadwal seharusnya. Saya nggak tahu keadaan di negara lain, tapi penerbangan-penerbangan domestik di negara tercinta ini 80%-nya selalu delay, sepanjang pengalaman saya. Saking seringnya kena delay, rasanya saya sudah imun sama these delay thingy, sampai-sampai delay sekitar 30 menitan sudah masuk ke ranah ah-biasa-aja buat saya.

source: http://www.quickmeme.com

Kenapa sih harus delay? Mungkin ini pertanyaan paling mendasar dari semua penumpang pesawat terbang. Sepanjang pengetahuan saya, delay bisa terjadi karena beberapa hal. Pertama, karena keadaan cuaca yang memang tidak mengizinkan pesawat untuk menjalani penerbangan. Biasanya delay macam ini terjadi di sekitar bulan November hingga Februari, dimana curah hujan sedang tinggi-tingginya. Delay karena kondisi bencana alam juga dapat saja terjadi, misalnya saat saya harus cancel penerbangan saat terjadi erupsi Gunung Kelud pada Februari 2014 yang lalu. Delay semacam ini, menurut saya, sangat patut dipahami. Ya iyalah, daripada disuruh naik pesawat dalam kondisi hujan badai halilintar saya sih mendingan sabar menanti aja sampai semuanya kondusif, daripada mengalami resiko tinggi kecelakaan.

Alasan kedua terjadinya delay adalah kendala teknis, baik dari maskapai penerbangan maupun dari kesiapan bandar udara sebagai prasarana paling penting dalam transportasi udara. Mungkin inilah alasan utama dari banyaknya delay yang saya hadapi. Saya pernah kena delay hampir tiga jam untuk penerbangan dari Bandar Lampung ke Jakarta karena pintu pesawatnya rusak. Tak usahlah menyebutkan maskapai yang saya gunakan saat itu, tapi yang jelas saat itu saya deg-degan banget. Emang sih pihak maskapai langsung mendatangkan teknisi untuk memperbaiki kerusakan tersebut, tapi yang bikin deg-degan adalah keterangan salah satu petugas berseragam maskapai tersebut saat saya tanya progress perbaikannya: "Kita berusaha betulkan sampai 100% bener sih Bu, tapi misal nggak bisa 100% betul, ya kita akan terbang lebih rendah." Oh nooo!! Enggak gitu juga sih Mas, ya harus 100% lah, gile apa kalo tiba-tiba di atas Selat Sunda pintunya kebuka. Hii, amit-amit pisan. Pernah juga saya kena delay dua jam untuk penerbangan dari Jakarta ke Palu karena penggantian pesawat. Hal terparah dari delay ini adalah saya jadi tidak bisa menghadiri acara (alias kerjaan) di tempat tujuan. Saking kesalnya, saya langsung menulis e-mail kepada maskapai terkait dan menumpahkan semua unek-unek saya (karena lagi marah jadi pake bahasa Inggris, sok nggaya). E-mail tersebut langsung dibalas dalam waktu 1x24 jam (juga dalam bahasa Inggris), isinya permintaan maaf dari si maskapai. Hmm, pelayanan kelas premium emang beda, plus mungkin karena saya menyertakan nomor kartu-sakti-warna-emas itu kali yah. Tapi sekali lagi, dalam hal ini saya lebih memilih keselamatan sih, dibandingkan terbang tepat waktu namun beresiko terhadap safety.

Versi lain dari delay karena hambatan teknis adalah kepadatan lalu lintas bandar udara asal maupun tujuan. Pesawat dalam kondisi baik, maskapai tidak berkendala, tapi runway alias landasan yang digunakan padat, saking banyaknya pesawat yang ingin menggunakan landasan tersebut. Delay jenis ini nih yang membuat saya sering tepok-tepok dada. Sudah menjadi rahasia umum bahwa Bandar Udara Soekarno-Hatta sebagai bandara andalan saya sudah sangat parah kondisi traffic-nya. Menurut situs airport-world.com, pada tahun 2013 Bandara Soetta adalah bandara tersibuk kedelapan di dunia dan keempat di Asia Pasifik. Uh-wow banget bukan? Efek dari padatnya traffic di Soetta adalah pesawat harus antri untuk dapat take-off ataupun landing, dan hal ini sudah jelas mempengaruhi ketepatan jadwal penerbangan. Dan sudah jelas, delay pada suatu jam penerbangan akan merembet pada jadwal-jadwal berikutnya. So, makin malam, makin panjanglah durasi delay-nya, bisa sampai hitungan jam. Bandara lain di Indonesia yang bisa-dipastikan-selalu-delay adalah Bandar Udara Juanda di Surabaya. Walaupun Bandara Juanda udah menambah satu terminal baru, ternyata runway yang digunakan itu-itu saja, so the delay problems still couldn't be helped. By the way, in my opinion, untuk mengatasi problem ini, solusi yang paling masuk akal adalah membangun sebuah bandara baru untuk mengakomodir kebutuhan masyarakat yang tinggal di wilayah Jabodetabek, sehingga load Soetta bisa berkurang. Kabarnya sih pemerintah akan membangun bandara baru di daerah Karawang. Saya berharap semoga rencana ini bisa segera direalisasikan, plus kalau boleh request semoga akses menuju bandara baru tersebut (semacam tol, angkutan pemadu moda, dan lain-lain) juga mudah diakses dan nyaman digunakan. Kenapa saya berpendapat demikian, karena saya percaya bila transportasi udara di Indonesia kondisinya membaik, maka akan meningkat pula produktivitas secara ekonomi dan sosial baik di daerah asal dan tujuan.
Antrian pesawat di Soetta. Source: setkab.go.id
What to do on delay time? Secara marah-marah karena delay tuh hanya akan menghabiskan energi saja, lebih baik mengisi waktu delay dengan perbuatan bermanfaat. Saya sih biasanya mengerjakan kerjaan kantor (sudah tentu bohong) pada saat delay. Kegiatan lain tentunya surf the internet. Tinggal masuk lounge (kalau lagi dapat maskapai ini), atau cari cafe terdekat buat nebeng wi-fi. Bisa juga blogging, seperti yang saat ini saya lakukan saat terkena delay dari Surabaya menuju Jakarta. Membaca buku juga merupakan pilihan bijak, makanya saya selalu bawa sebuah buku di tas saya atau e-book di tablet. Telepon orangtua atau pacar juga bisa menjadi alternatif pengisi waktu. Kalau nggak punya pulsa, cukup sms atau WhatsApp pihak terkait dan bilang "telepon aku dong". Hihi. Pilihan lain yang paling ultimate tentu saja mencari pojokan untuk bersandar dan kemudian tertidur pulas. Bahaya dari tertidur saat menunggu pesawat tentu saja kemungkinan missed the boarding time, apalagi di bandara kayak Juanda yang sudah nggak menggunakan teknik pengumuman lewat pengeras suara. So pilihan ini biasanya nggak saya lakukan, apalagi saya termasuk manusia yang kebo banget kalau sudah tidur. By the way the point is nggak usah kesal, cemberut, apalagi ngamuk kalau kena delay, karena terbukti makin bikin bad mood.
source: keepcalm-o-matic.co.uk
Anyway, delay nggak selamanya berujung pada kesengsaraan. Dalam sesi delay karena pintu pesawatnya rusak tadi, saya (yang waktu masih single and available) jadi bisa berkenalan dengan seorang cowok yang juga berada di penerbangan yang sama. Ngobrol-ngobrol pun dilakukan, dan pas saya sudah geer stadium empat, si cowok berkata "Eh, kamu punya powerbank nggak? Pinjem dong!". Kampret, ternyata dia cuma ngincer powerbank saya doang, hahaha.Sesi delay lain (lupa darimana dan kemana) membuat saya berkenalan dengan seorang ibu yang bekerja sebagai manager distribusi sebuah perusahaan wadah bekal terkenal. Beliau bercerita bahwa karirnya dimulai dari direct seller yang mengetuk pintu demi pintu untuk berjualan produknya. Semua dijalani selama enam belas tahun, dan sekarang beliau sudah bisa berkeliling Eropa dari hasil reward atas achievement penjualannya. Pesan beliau agar 'anak muda itu harus sabar, jangan mau instan saja saat bekerja' sungguh menohok saya sebagai anak kemarin sore yang kadang menuntut fasilitas setara dengan mama saya yang sudah berkarir puluhan tahun.

By the way, sebenarnya ada peraturan pemerintah yang mengatur mengenai tanggung jawab maskapai penerbangan berkaitan dengan delay ini loh. Semuanya tertuang dalam Peraturan Menteri Perhubungan Nomor: PM 77 Tahun 2011 tentang Tanggung Jawab Pengangkut Angkutan Udara. Bila kita simak penjelasan berikut, kompensasi bisa berupa refreshment alias makanan ringan yang dibagikan pihak maskapai pada penumpang, hingga kompensasi dalam bentuk uang. Tapi di PM tersebut juga disebutkan bahwa kompensasi ini tidak berlaku apabila delay disebabkan karena faktor cuaca dan faktor teknis/operasional, yang detailnya disebutkan lebih lanjut dalam PM terkait. So far sih saya selalu dapat kompensasi dalam bentuk refreshment yang selalu saya syukuri sebagai bentuk makan malam gratis.

Flight's delay memang tidak dipungkiri adalah salah satu kegiatan yang menghabiskan masa muda saya yang berharga ini. Tapi saya selalu ikhlas apabila delay yang terjadi berkenaan dengan safety assurance kita saat bepergian. Kalau delay-nya karena profesionalitas yang kurang memadai dari maskapai penerbangan sih, cukup tepok dada aja sambil bilang "selambat-lambatnya delay pasti akan berangkat juga kok".

Have a good flight, readers!







Monday, 4 March 2013

Travelling, Pesawat Terbang, dan Nyeri Telinga: A Drama of My Life


Akhir-akhir ini pekerjaan saya mengharuskan saya traveling dari satu kota ke kota lain menggunakan pesawat terbang. Dan setiap kali terbang itu pula, saya 'harus' merasakan nyeri di telinga saya, rasanya telinga ini 'penuh' dengan udara yang 'terperangkap' dan tidak bisa keluar dari dalam lubang telinga. Pendengaran jadi sedikit terganggu dan tentunya nyerinya itu loh, kadang menjalar sampai jadi sakit kepala.

Anda yang bepergian dengan pesawat terbang mungkin pernah mengalami hal yang sama. Kondisi ini biasa disebut airplane ear pain. Karena saya penasaran dengan kondisi-penuh-derita ini, plus beberapa rekan juga sering mengeluhkan hal yang sama, saya jadi ingin mengupas hal ini dalam tulisan saya.

Sebelum melangkah lebih 'dalam', yuk kita berkenalan dulu dengan organ tubuh kita yang menjadi bahasan tulisan kali ini: telinga. Organ pendengaran kita ini, 'dalemannya' kira-kira seperti ini nih:

Source: edoctoronline.com
Bagian yang saya beri linkaran biru putus-putus itu adalah bintang utama dalam bahasan kita kali ini. Yup, namanya saluran Eustachius atau Eustachian tube. Saluran Eustachius ini panjangnya sekitar 4 cm dan terdiri dari dua bagian, bagian pertama berada di dekat perbatasan dengan middle ear, sedangkan bagian lainnya berada di dekat perbatasan dengan nasofaring (bagian dari saluran pencernaan yang menjadi 'pemisah' antara rongga hidung dengan rongga mulut). Fungsi saluran Eustachius sendiri adalah sebagai pengatur agar tekanan udara di outer ear (sebelum eardrum/gendang telinga) sama dengan di inner ear (setelah eardrum). Kenapa tekanan sebelum dan sesudah gendang telinga harus sama? Supaya gendang telinga kita nggak 'pecah', sebab si gendang telinga ini bentuknya 'hanya' seperti lapisan tipis saja :)

Jadi, kalau ada perbedaan tekanan antara outer ear dan inner ear, tugas si saluran Eustachius ini-lah buat menyeimbangkannya. Caranya, saluran Eustachius ini akan membuka sehingga ada aliran udara dari dan keluar inner ear sampai diperoleh tekanan yang sama antara kedua ruang tersebut.

Nah, ini nih yang jadi 'masalah' saat kita naik pesawat terbang. Seperti kita tahu, kalau naik pesawat terbang, lingkungan di luar pesawat terbang mengalami perubahan tekanan seiring dengan meningkat atau menurunnya ketinggian jelajah kita. Misalnya nih, kita semula berada di ground alias masih di daratan pas pesawat mau take off, tekanan udara di luaran itu sekitar 1 bar. Pas pesawat udah naik makin dan makin tinggi, tekanan udara di luar menurun, di ketinggian jelajah 8000 feet kira-kira tekanannya jadi 0,7 bar. Begitu pula saat kita mau landing, ada perbedaan tekanan antara saat kita masih di udara dengan saat kita landing.

Perubahan tekanan udara di sekitar kita membuat tekanan udara yang masuk ke outer ear pun berubah, sehingga terjadi perbedaan tekanan antara outer dan inner ear. Gendang telinga pun jadi seakan menahan perbedaan udara yang berbeda tersebut, sehingga kita biasanya merasakan pusing dan seperti ada udara yang nge-block telinga kita.

Di sini nih saluran Eustachius kita akan bekerja sebagai 'pahlawan' yang akan menyeimbangkan lagi tekanan udara antara outer dan inner ear, sesuai dengan fungsinya yang udah saya sebutkan tadi. Gimana caranya? Inget kan, tadi saya bilang bahwa saluran Eustachius terhubung juga ke nasofaring. Kita bisa memanfaatkan hubungan ini nih untuk membuat agar saluran Eustachius terbuka, sehingga ada aliran udara yang seimbang antara outer dan inner ear. Here some of the tips to do that:

  • Jangan tidur selama pesawat take off dan landing! Nah ini nih, ternyata yang menjadi penyebab saya hampir selalu mengalami ear pain selama terbang. Sebagai anak pelor alias nempel-langsung-molor, saya akan segera tertidur begitu menyentuh bangku pesawat dan baru bangun saat orang-orang sudah heboh mau turun pesawat (ya maap.. kan capek habis kerja :p). Kenapa juga nggak boleh tidur saat take off atau landing? Seperti tadi yang sudah saya katakan, perubahan tekanan luar terjadi paling 'ekstrim' tentunya saat pesawat menanjak naik dan menukik turun. So dua saat ini adalah timing yang 'kritis' dalam menentukan kita bakalan mengalami ear pain atau enggak. Dengan terjaga selama dua kondisi tersebut, ke'kaget'an kita akan perubahan tekanan udara akan lebih minimal
  • Menguap atau mengunyah atau menelan selama pesawat take off dan landing. Di setiap penerbangan, mbak-mbak pramugari yang cantik (atau pramugara yang ganteng, tapi saya jarang ketemu sih :p) pasti akan nawarin kita permen sebelum terbang. Ini bertujuan supaya kita mengunyah atau at least menggerak-gerakan rahang kita, serta ada mekanisme menelan juga, sehingga akan tercipta jalan buat saluran Eustachius untuk bisa membuka karena nasofaring juga ikut bergerak. Kalau buat saya pribadi, menguap adalah hal yang paling bikin telinga 'plong', walaupun efek sampingnya adalah saya diliatin dengan tatapan aneh sama bule ganteng di sebelah soalnya nguap-nguap mulu hahaha *sigh, nasibb*  Oh iya, kalau Anda punya anak kecil atau mungkin adik yg usianya masih kecil, selama pesawat take off dan landing bimbing juga supaya dia selalu menggerakan mulutnya.
  • Lakukan Valsalva's maneuver bila perlu. Telinga udah keburu 'tersumbat' dan berasa nggak enak? Bisa dicoba melakukan Valsalva's maneuver bila perlu. Valsalva's maneuver adalah suatu gerakan yang dimaksudkan untuk 'membuka' saluran Eustachius yang tertutup. Caranya, tarik napas seperti biasa, lalu tutup hidung (misal dengan cara pinching) dan mulut, lalu hembuskan napas. Karena hidung dan mulut tertutup, maka udara yang tadi kita hirup saat menarik napas akan keluar lewat telinga, sehingga disinilah saluran Eustachius akan bekerja. NOTE! Lakukan gerakan ini dengan lembut dan tanpa dipaksa ya, karena kalau terlalu dipaksa malah dapat mengakibatkan iritasi pada saluran Eustachius sendiri :)
  • Konsumsi dekongestan (bila perlu). Flu adalah kondisi terburuk untuk bepergian dengan pesawat terbang, menurut saya. Selain berpotensi tinggi menyebarkan bakteri atau virus pada sesama penumpang di ruang kabin yang kecil begitu, hidung tersumbat yang menyertai penyakit flu juga akan menjadikan airplane ear pain yang kita alami menjadi 10 kali lebih buruk (kira-kira segitulah hiperbolisme saya :p). Saat-saat begini, beberapa obat dekongestan dapat menjadi pilihan. Silakan berkonsultasi pada dokter Anda masing-masing tentang penyakit flu Anda, atau bisa juga menanyakan pada Apoteker di apotek untuk mendapatkan dekongestan over-the-counter yang bisa Anda gunakan untuk membebaskan hidung Anda dari tersumbat (ehem, sekalian promosi profesi ehem).
So that's all! I've tried the tips waktu terbang beberapa hari lalu dan lumayan membantu loh :) Yah, walaupun it means saya jadi 'dilarang' tidur di pesawat hiks hiks :p
Semoga tulisan ini membantu dan berguna buat yang sering mengalami nasib yang sama dengan saya ini hehe. 

Have an enjoyable flight, readers! (kok berasa kaya quotes salah satu maskapai penerbangan nasional ya :p)

ps: big thanks buat Vega yang sudah bersusah payah mengajari saya tentang air pressure, maafkan keterbatasan kemampuan mencerna di otak saya sehingga jadinya cuma segini yang ditulis, you're the master of it while I'm just a pharmacist xD