Showing posts with label traveling. Show all posts
Showing posts with label traveling. Show all posts

Wednesday, 18 June 2014

Me and (so called) Airport Fashion


I'm not a devoted full-time fashionista, but I do care about my daily appearance. Iyalah, sebagai cewek pada umumnya, saya akan meluangkan sedikit waktu untuk memikirkan what to wear, head to toe.

Menilik fakta bahwa saya adalah karyawati biasa-biasa-saja di suatu perusahaan yang mengharuskan employee-nya menggunakan seragam dari hari Senin hingga Kamis, harusnya persoalan outfit of the day bukanlah masalah besar buat saya. Tapi namanya juga cewek, tetep aja saya suka ribet mengenai hal ini, especially when it comes to the fact that I am an airport(s)-frequent guest.

Yes, airport fashion. Saya pertama kali mengetahui term ini karena saya fans berat salah satu Korean girl group, SNSD. Nah, the ladies of SNSD ini selalu tampil amazingly fashionable setiap kali mereka ada di airport untuk flight ke tujuan-tujuan konser/pemotretan/aktivitas apapun. Designer items head to toe, from baseball cap to sunglasses and even their iPhone cases, airport fashion menjadi salah satu ajang mereka untuk brand endorsement sekaligus membuktikan kekecean style mereka whenever they are, including on the departure time.

source: http://snsdoverload.blogspot.com/
My forever favorite from the 9: Jessica.
Her airport fashion is simple yet gorgeous, and her arrogant face makes the outfit even better!
Sejak beberapa tahun lalu, airport fashion adalah sesuatu yang common, nggak cuma di dunia Kpop saja. Silakan berkunjung ke airport-airport di Indonesia and you'll see people in the most updated style wait for their flights. Kece abis, istilah saya sih.
Hollywood's airport looks.
source: http://www.fashionfoiegras.com/2010/01/celebrity-airport-style.html
 Some people might think it is unnecessary, ngapain coba heboh-heboh dandan mau naik pesawat doang. Ngapain juga pake heels, kesandung bangku pesawat baru tahu rasa deh. Tapi, kalau kita lihat dari sudut pandang yang lain (my own POV, actually, haha), ada banyak alasan untuk tampil stylish di airport.

Sebagai karyawati yang kunjungannya ke airport sudah barang tentu untuk bekerja, saya sering merasa salah tingkah kalau pakai baju santai macam jeans dan kaus oblong biasa. Yup, simply because I'm on duty. Untuk tujuan ini, formal outfit yang paling sering saya gunakan di airport tentunya seragam kebangsaan: kemeja biru atau putih, celana atau rok dan blazer biru dongker. Dengan berpakaian seragam, lengkap dengan sepatu yang sesuai (usually I wear my 5-cm-heels, not the stiletto one, of course), saya merasa lebih percaya diri dan tidak saltum alias salah kostum. Terutama jika dapat penerbangan dengan maskapai ini, yang mostly penumpangnya adalah orang-orang yang juga on duty dan berpakaian rapi, serta biasanya sudah berumur. Dengan menggunakan formal outfit, saya merasa ada rasa profesionalisme yang tercermin dalam appearance saya, so that I could tell them that 'hey, don't (always) judge me by my age!'. Haha, hebring amat ya. Tapi kira-kira seperti itulah. Kebosanan yang kadang melanda karena berpakaian seragam yang gitu-gitu aja cukup disiasati dengan aksesoris: kalung dan gelang adalah andalan utama saya. Accessories are small things that really work for appearance-booster!

Selain outfit, tampilan muka alias make up juga menjadi perhatian saya. Habis rasanya kurang aja gitu kalau bare-faced pergi kemana-mana, apalagi biasanya setelah landing di destinasi tujuan saya akan segera meluncur ke tempat bekerja. Kalau lagi dapat flight subuh dan harus berangkat jam 3 pagi dari kosan, ya saya akan bangun jam 2 subuh buat dandan. Sounds so crazy, yes? But I enjoy it. Minimal sih pakai BB cream dan bedak dan lipstik, biasanya ini edisi malas. Kalau edisi sregep alias rajin, ya lengkap aja sama eye makeup. Sampai di tempat tujuan juga biasanya WC adalah tempat pertama yang saya tuju, selain untuk buang hajat, juga untuk cari cermin buat benerin makeup dan menghapus minyak-minyak dengan kertas minyak. By the way, dari pengalaman-pengalaman saya, wearing mascara while on board is a big no. Entah kenapa kalau ketiduran di pesawat bakal ada bekas-bekas maskara yang agak ganggu di kelopak mata bagian bawah.

Saya bukannya nggak pernah 'nakal'. Beberapa kali saya cuek pakai celana pendek dan T-shirt pas flight, bisanya kalau flight saya hari Minggu (hey, that's originally my holiday!). Tapi selalu ada perasaan rikuh, nggak nyaman, saat masuk lounge atau pesawat (again, apalagi kalo naik maskapai ini) dengan outfit kaya gitu. Sekarang sih saya udah jarang tampil cuek beybeh gitu, kalaupun mau tampil santai minimal saya pakai dress selutut atau atasan yang sedikit 'manis' macam babydoll. After all, mau hari Minggu pun, ini judulnya tetap business trip, so saya pikir berpakaian dengan tema menjaga business things tetap baik bagus juga buat dilakukan.

By the way, seragam tersayang sering menjadi jebakan batman juga buat saya. Paling sering sih ketemu petinggi-petinggi perusahaan yang juga lagi flight. Kadang ketemu beberapa user produk juga yang easily recognized me and my job from this uniform, haha. Kalau udah begini biasanya saya selalu sigap senyum dan langsung behave (contoh: nggak ngambil makanan dengan rakusnya di lounge).

After all, doing airport fashion menurut saya adalah masalah mendongkrak kepercayaan diri. Kenyamanan kadang menjadi nomor dua, saya akui iya. Saya pribadi sih tetap prefer to wear heels than sneakers, simply karena saya merasa lebih pede memadukan business suit dengan heels, despite of kaki saya pegel-pegel seharian pakai heels. Nggak usah branded juga dari atas sampe bawah, yang penting tetap rapi dan enak dilihat. Lastly, semuanya kembali ke kenyamanan dan kepedean masing-masing individu untuk mengenakan pakaian saat bepergian dengan pesawat terbang ini.

Happy traveling!


Monday, 16 June 2014

My Daily Menu: Flight's Delay!

source: patdollard.com
Sebagai seorang karyawati yang sering mendapat mandat untuk bekerja di daerah-daerah yang harus ditempuh menggunakan moda pesawat terbang, salah satu menu harian saya adalah menghadapi musuh-dalam-selimut bernama delay alias penundaan atau keterlambatan jadwal penerbangan dari jadwal seharusnya. Saya nggak tahu keadaan di negara lain, tapi penerbangan-penerbangan domestik di negara tercinta ini 80%-nya selalu delay, sepanjang pengalaman saya. Saking seringnya kena delay, rasanya saya sudah imun sama these delay thingy, sampai-sampai delay sekitar 30 menitan sudah masuk ke ranah ah-biasa-aja buat saya.

source: http://www.quickmeme.com

Kenapa sih harus delay? Mungkin ini pertanyaan paling mendasar dari semua penumpang pesawat terbang. Sepanjang pengetahuan saya, delay bisa terjadi karena beberapa hal. Pertama, karena keadaan cuaca yang memang tidak mengizinkan pesawat untuk menjalani penerbangan. Biasanya delay macam ini terjadi di sekitar bulan November hingga Februari, dimana curah hujan sedang tinggi-tingginya. Delay karena kondisi bencana alam juga dapat saja terjadi, misalnya saat saya harus cancel penerbangan saat terjadi erupsi Gunung Kelud pada Februari 2014 yang lalu. Delay semacam ini, menurut saya, sangat patut dipahami. Ya iyalah, daripada disuruh naik pesawat dalam kondisi hujan badai halilintar saya sih mendingan sabar menanti aja sampai semuanya kondusif, daripada mengalami resiko tinggi kecelakaan.

Alasan kedua terjadinya delay adalah kendala teknis, baik dari maskapai penerbangan maupun dari kesiapan bandar udara sebagai prasarana paling penting dalam transportasi udara. Mungkin inilah alasan utama dari banyaknya delay yang saya hadapi. Saya pernah kena delay hampir tiga jam untuk penerbangan dari Bandar Lampung ke Jakarta karena pintu pesawatnya rusak. Tak usahlah menyebutkan maskapai yang saya gunakan saat itu, tapi yang jelas saat itu saya deg-degan banget. Emang sih pihak maskapai langsung mendatangkan teknisi untuk memperbaiki kerusakan tersebut, tapi yang bikin deg-degan adalah keterangan salah satu petugas berseragam maskapai tersebut saat saya tanya progress perbaikannya: "Kita berusaha betulkan sampai 100% bener sih Bu, tapi misal nggak bisa 100% betul, ya kita akan terbang lebih rendah." Oh nooo!! Enggak gitu juga sih Mas, ya harus 100% lah, gile apa kalo tiba-tiba di atas Selat Sunda pintunya kebuka. Hii, amit-amit pisan. Pernah juga saya kena delay dua jam untuk penerbangan dari Jakarta ke Palu karena penggantian pesawat. Hal terparah dari delay ini adalah saya jadi tidak bisa menghadiri acara (alias kerjaan) di tempat tujuan. Saking kesalnya, saya langsung menulis e-mail kepada maskapai terkait dan menumpahkan semua unek-unek saya (karena lagi marah jadi pake bahasa Inggris, sok nggaya). E-mail tersebut langsung dibalas dalam waktu 1x24 jam (juga dalam bahasa Inggris), isinya permintaan maaf dari si maskapai. Hmm, pelayanan kelas premium emang beda, plus mungkin karena saya menyertakan nomor kartu-sakti-warna-emas itu kali yah. Tapi sekali lagi, dalam hal ini saya lebih memilih keselamatan sih, dibandingkan terbang tepat waktu namun beresiko terhadap safety.

Versi lain dari delay karena hambatan teknis adalah kepadatan lalu lintas bandar udara asal maupun tujuan. Pesawat dalam kondisi baik, maskapai tidak berkendala, tapi runway alias landasan yang digunakan padat, saking banyaknya pesawat yang ingin menggunakan landasan tersebut. Delay jenis ini nih yang membuat saya sering tepok-tepok dada. Sudah menjadi rahasia umum bahwa Bandar Udara Soekarno-Hatta sebagai bandara andalan saya sudah sangat parah kondisi traffic-nya. Menurut situs airport-world.com, pada tahun 2013 Bandara Soetta adalah bandara tersibuk kedelapan di dunia dan keempat di Asia Pasifik. Uh-wow banget bukan? Efek dari padatnya traffic di Soetta adalah pesawat harus antri untuk dapat take-off ataupun landing, dan hal ini sudah jelas mempengaruhi ketepatan jadwal penerbangan. Dan sudah jelas, delay pada suatu jam penerbangan akan merembet pada jadwal-jadwal berikutnya. So, makin malam, makin panjanglah durasi delay-nya, bisa sampai hitungan jam. Bandara lain di Indonesia yang bisa-dipastikan-selalu-delay adalah Bandar Udara Juanda di Surabaya. Walaupun Bandara Juanda udah menambah satu terminal baru, ternyata runway yang digunakan itu-itu saja, so the delay problems still couldn't be helped. By the way, in my opinion, untuk mengatasi problem ini, solusi yang paling masuk akal adalah membangun sebuah bandara baru untuk mengakomodir kebutuhan masyarakat yang tinggal di wilayah Jabodetabek, sehingga load Soetta bisa berkurang. Kabarnya sih pemerintah akan membangun bandara baru di daerah Karawang. Saya berharap semoga rencana ini bisa segera direalisasikan, plus kalau boleh request semoga akses menuju bandara baru tersebut (semacam tol, angkutan pemadu moda, dan lain-lain) juga mudah diakses dan nyaman digunakan. Kenapa saya berpendapat demikian, karena saya percaya bila transportasi udara di Indonesia kondisinya membaik, maka akan meningkat pula produktivitas secara ekonomi dan sosial baik di daerah asal dan tujuan.
Antrian pesawat di Soetta. Source: setkab.go.id
What to do on delay time? Secara marah-marah karena delay tuh hanya akan menghabiskan energi saja, lebih baik mengisi waktu delay dengan perbuatan bermanfaat. Saya sih biasanya mengerjakan kerjaan kantor (sudah tentu bohong) pada saat delay. Kegiatan lain tentunya surf the internet. Tinggal masuk lounge (kalau lagi dapat maskapai ini), atau cari cafe terdekat buat nebeng wi-fi. Bisa juga blogging, seperti yang saat ini saya lakukan saat terkena delay dari Surabaya menuju Jakarta. Membaca buku juga merupakan pilihan bijak, makanya saya selalu bawa sebuah buku di tas saya atau e-book di tablet. Telepon orangtua atau pacar juga bisa menjadi alternatif pengisi waktu. Kalau nggak punya pulsa, cukup sms atau WhatsApp pihak terkait dan bilang "telepon aku dong". Hihi. Pilihan lain yang paling ultimate tentu saja mencari pojokan untuk bersandar dan kemudian tertidur pulas. Bahaya dari tertidur saat menunggu pesawat tentu saja kemungkinan missed the boarding time, apalagi di bandara kayak Juanda yang sudah nggak menggunakan teknik pengumuman lewat pengeras suara. So pilihan ini biasanya nggak saya lakukan, apalagi saya termasuk manusia yang kebo banget kalau sudah tidur. By the way the point is nggak usah kesal, cemberut, apalagi ngamuk kalau kena delay, karena terbukti makin bikin bad mood.
source: keepcalm-o-matic.co.uk
Anyway, delay nggak selamanya berujung pada kesengsaraan. Dalam sesi delay karena pintu pesawatnya rusak tadi, saya (yang waktu masih single and available) jadi bisa berkenalan dengan seorang cowok yang juga berada di penerbangan yang sama. Ngobrol-ngobrol pun dilakukan, dan pas saya sudah geer stadium empat, si cowok berkata "Eh, kamu punya powerbank nggak? Pinjem dong!". Kampret, ternyata dia cuma ngincer powerbank saya doang, hahaha.Sesi delay lain (lupa darimana dan kemana) membuat saya berkenalan dengan seorang ibu yang bekerja sebagai manager distribusi sebuah perusahaan wadah bekal terkenal. Beliau bercerita bahwa karirnya dimulai dari direct seller yang mengetuk pintu demi pintu untuk berjualan produknya. Semua dijalani selama enam belas tahun, dan sekarang beliau sudah bisa berkeliling Eropa dari hasil reward atas achievement penjualannya. Pesan beliau agar 'anak muda itu harus sabar, jangan mau instan saja saat bekerja' sungguh menohok saya sebagai anak kemarin sore yang kadang menuntut fasilitas setara dengan mama saya yang sudah berkarir puluhan tahun.

By the way, sebenarnya ada peraturan pemerintah yang mengatur mengenai tanggung jawab maskapai penerbangan berkaitan dengan delay ini loh. Semuanya tertuang dalam Peraturan Menteri Perhubungan Nomor: PM 77 Tahun 2011 tentang Tanggung Jawab Pengangkut Angkutan Udara. Bila kita simak penjelasan berikut, kompensasi bisa berupa refreshment alias makanan ringan yang dibagikan pihak maskapai pada penumpang, hingga kompensasi dalam bentuk uang. Tapi di PM tersebut juga disebutkan bahwa kompensasi ini tidak berlaku apabila delay disebabkan karena faktor cuaca dan faktor teknis/operasional, yang detailnya disebutkan lebih lanjut dalam PM terkait. So far sih saya selalu dapat kompensasi dalam bentuk refreshment yang selalu saya syukuri sebagai bentuk makan malam gratis.

Flight's delay memang tidak dipungkiri adalah salah satu kegiatan yang menghabiskan masa muda saya yang berharga ini. Tapi saya selalu ikhlas apabila delay yang terjadi berkenaan dengan safety assurance kita saat bepergian. Kalau delay-nya karena profesionalitas yang kurang memadai dari maskapai penerbangan sih, cukup tepok dada aja sambil bilang "selambat-lambatnya delay pasti akan berangkat juga kok".

Have a good flight, readers!







Thursday, 8 May 2014

My Weekdays Escape: Lumajang, B29, dan Negeri di Atas Awan



 "Ties, awal Mei tugas tiga hari berturut-turut ya, dua hari di Lumajang dan sehari di Jember."

Demikianlah titah dari Pak Bos pada saya di suatu hari kerja. Meh, another episode of jelajah Jawa Timur nih, pikir saya. Baiklah, sebagai karyawati yang (ceritanya) baik, saya pun mengiyakan dan segera membuat itinerary perjalanan.

'Petualangan' dimulai di suatu Senin subuh yang damai, saya naik pesawat dari Jakarta ke Surabaya, kemudian naik kereta api dari Stasiun Gubeng Surabaya ke Jember. Eh, kenapa ke Jember dulu? Iya, soalnya area manager cabang sana tinggal di Jember, jadi nanti saya akan pergi bareng beliau ke Lumajang.

Semalam istirahat di Jember, Selasa pagi saya pergi ke Lumajang bersama sang area manager, Pak Rony. Perjalanan Jember-Lumajang ditempuh dalam waktu sekitar 2 jam (plus acara berhenti ngemil pastel yang sumpah-enak-banget, ada di Toko Soponyono, daerah perbatasan Jember sama Lumajang), medan cukup oke, plus pemandangan yang teduh dan damai.

Lumajang ini ternyata terletak di kaki Gunung Semeru. Pantesan aja hawanya cukup bersahabat, plus kotanya emang nggak begitu besar, sehingga rasanya nyaman aja. Di Lumajang ini saya menginap di Hotel Gajah Mada di Jl. P.B. Sudirman. Hotelnya fine kok, bersih dengan harga yang sesuai pula.

Dua hari kerja di Lumajang, Rabu siang setelah beres presentasi Pak Rony bertanya pada saya mau jalan-jalan kemana. Wah, saya clueless banget, so saya menyerahkan semuanya ke Pak Rony.

"Oke Bu, kita ke B29 saja yuk!"

Hah, B29? Apaan tuh? Saya sih taunya itu merk detergen. Tapi ternyata bukan B29 yang itu kok. B29 ini, menurut Pak Rony, adalah kampung tertinggi di Pulau Jawa. Wuih, bakal seru nih.

Kami pun berkendara sekitar sembilan puluh menit perjalanan ke arah luar kota Lumajang, dan setelah beberapa saat terpampang baligo besar bertuliskan 'Selamat Datang di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru'. Whoa whoa whoa! This is gonna be awesome, saya pikir.

Jalanan menuju Desa Argosari
 Kami terus melaju menuju sebuah desa yang bernama Argosari. So far, jalanan masih bersahabat banget, aspal, dan bisa dilewati dua mobil dari arah yang berlawanan. Yang nggak bersahabat sih medannya, banyak banget tikungan tajam yang merupakan tanjakan. Gile, udah nanjak, tikungan tajam pula. Sedap.

Gerbang Desa Argosari

Kira-kira 3 km dari gerbang desa Argosari, kami mulai merasa bahwa medan jalanan ke depan sudah tidak bisa dilalui lagi dengan mobil. Akhirnya kami berhenti di pinggir jalan dan menunggu penduduk yang lewat untuk kami tanyai soal akses menuju B29.

Dari keterangan beberapa penduduk yang melintas, akses satu-satunya menuju ke B29 adalah menggunakan ojek sepeda motor. Okesip, kami pun menyewa motor tiga orang penduduk setempat. Harga ojek yang kami sepakati adalah Rp 40.000 PP per ojek. By the way harga ini bisa bervariasi, bisa jadi lebih mahal kalau naiknya dari titik yang lebih bawah dari tempat kami berhenti. Driver ojeg yang saya naiki namanya Pak Tuwi. Beliau orang Suku Tengger asli, dan sehari-hari bermata pencaharian sebagai petani kentang dan bawang merah.

Motor digas dan kami pun mulai menapaki jalan menuju B29. Oh. My. God. The journey is more challenging to the adrenaline than riding Halilintar at Dufan! Seriously, it's very not recommended buat wisata keluarga bersama anak kecil, atau buat wanita hamil. Jalan setapak yang sangat off-road, jurang di sebelah kanan, bukit di sebelah kiri. Seriously I have to give ten thumbs to Pak Tuwi yang jago banget ngendarain motor di medan kaya gini. But despite of the off-road, the scenery is spectacularly beautiful. Bayangin bunga-bunga liar yang tumbuh di kiri-kanan, berpadu dengan lahan bawang merah, di ketinggian dimana awan adalah teman seperjalanan saking rasanya dekat banget. Yup, julukan buat daerah ini adalah Negeri di Atas Awan :)



Sepanjang perjalanan, Pak Tuwi bercerita tentang B29 ini pada saya (iya, beliau bisa banget cerita dengan santai, sambil nyetir motor di kondisi off-road, sementara saya di kursi penumpang berdoa semoga saya nggak terjungkal dan mendarat dengan posisi pantat duluan). B29 sendiri adalah singkatan dari Bromo-29. Bromo, karena daerah tersebut masih termasuk ke dalam rangkaian pegunungan Bromo. 29, karena titik tersebut berada 2900 meter di atas permukaan laut, dan diklaim sebagai tanah tertinggi di Pulau Jawa. B29 ini sendiri masih masuk ke dalam wilayah administratif Kabupaten Lumajang.

Setelah sekitar 20 menit mengendarai motor-rasa-Halilintar, tibalah kami di titik B29. WHOA! This is breathtaking scenery! I can see Bromo from above. Yup, from above! Interesting, isn't it? Jadi titik B29 ini memang secara ketinggian kabarnya lebih tinggi daripada Bromo, makanya kita bisa memandang Bromo dari atas disini. Eits, belom semua. Toleh kiri, dan puncak Gunung Semeru pun dengan gagahnya hadir memanjakan mata. Superb!

Bromo Mountain, right in front of my eyes

Puncak Gunung Semeru, gagah!
Kami pun naik lagi ke suatu tanah lapang dan mulai membuka bekal makan siang: ayam bakar. Kalau kata Pak Rony, ini adalah ayam bakar terenak yang pernah ia makan seumur hidup. Hahaha, boleh juga. Disini kami bertemu dua orang pecinta alam yang sedang mendirikan tenda dalam rangka ingin melihat sunrise esok hari dari titik ini. Ternyata oh ternyata, Pak Rony turned out to be pecinta alam juga while he was younger, so nyambunglah beliau ngobrol sama dua orang yang kami temui tadi. Dari pembicaraan mereka, ada satu hal yang saya tangkap: kabarnya Semeru sekarang kotor, sejak banyak orang berbondong-bondong datang kesana tanpa pengetahuan lingkungan hidup yang cukup (kata mas-nya itu sih most likely imbas dari pemutaran film 5 cm beberapa waktu lalu).

Angin disini cukup dingin, walaupun panas matahari pukul 4 sore masih cukup menyengat. By the way, mostly masyarakat asli sini selalu pakai sarung kain yang disampirkan di bahu mereka. Wajar sih, the wind is so breezy.

So that was it! Setelah beres makan ayam-bakar-terenak-versi-Pak-Rony, kami pun bersiap turun dan kembali ke kota karena waktu sudah menunjukkan hampir pukul empat sore.

Hmm, wait a sec. Have I mention that I made it there with complete business suit and a 5 cm heels?

Oh yes, I did that.

And I believe that there's a high possibility I'm the only one who do that. Crazy, yes? Hahaha... I admit that! Beberapa cowok pecinta alam yang ada di lokasi sampai bingung, ini mbak-mbak nyasar darimana nih. Bahkan Pak Tuwi sempat stres waktu liat saya nekat naik bukit pake heels. Ya maklum, ini event impromptu, kabur setelah beres kerja, so saya mana persiapan kostum. Tapi toh saya (syukurlah) selamat-selamat aja kok, tanpa kekurangan sesuatu apapun, kecuali lengan bagian bawah yang nyeri karena pegangan kencang di motor.

Made it with blazer and heels, yeay!


Literally Negeri di Atas Awan. Since I'm higher than the cloud :D
B29, Desa Argosari, Kabupaten Lumajang. Highly recommended banget buat dikunjungi. Sebaiknya pas weekday, karena kabarnya kalau weekend rame banget, dan space-nya nggak seluas itu, jadi pasti crowded. Sangat disarankan membawa kamera yang bagusan dikit, atau at least kalau mau pakai phone camera, jangan lupa bawa powerbank.

Satu lagi. Jagalah kebersihan dan kelestarian alamnya ya! :) 




Tuesday, 11 February 2014

My Weekdays Escape: Denpasar!

Throwback Agustus 2013. What? Baru di-posting sekarang? Iya, thanks to mas-mas ini yang ngomporin terus :p

~~~

Iya, Denpasar. Bukan Bali as a whole package. Thanks to flu dan batuk berat yang menyertai saya dalam perjalanan kali ini, I had to bid adieu to those pretty beaches, dan harus tepar di hotel memulihkan kondisi sebelum bekerja. But anyway, Denpasar pun menarik kok buat dijelajahi, buktinya saya dapet cukup banyak di 3D2N kali ini :)

Day one, seperti biasa pagi-pagi ke Soetta, yang ramainya udah ngalahin pasar Tanah Abang. Check in, boarding, nah pas masuk pesawat ini saya agak linglung. Jadi sekarang Garuda Indonesia menerapkan sistem penomoran seat yang baru buat pesawat-pesawatnya. Kalau selama ini nomor 1-5 itu punyanya business class, dan 6-akhir (tergantung jenis pesawatnya) itu punya economy class, dan nomor tempat duduknya pun ABC-DEF, sekarang ada pergantian yang cukup mencolok. Sekarang, nomor 1-10 itu punyanya first class (ini gaji berapa taun ya gue baru bisa naik first class hehehe), 11-20 punya business class, dan economy class dimulai dari nomor 21-akhir. Ini berlaku buat semua pesawat, nggak cuma pesawat-pesawat yang ada first class-nya aja. Alfabetnya pun bukan ABC-DEF buat model Boeing 737, tapi ABC untuk gang kiri (dari arah pintu masuk dekat kokpit), dan HJK buat gang kanan. So, pas liat boarding pass saya menunjukkan angka 25B, saya pede banget langsung jalan ke belakang, eh ternyata kebablasan karena 25 letaknya di depan. Hahaha.

Rute Jakarta-Denpasar emang agak spesial (harganya juga spesial, heu), soalnya di baki makanan yang biasanya cuma berisi main course dan dessert, kalau di rute ini ada tambahan roti plus butter. Haha, lumayan, tambahan karbo. Mendekati Ngurah Rai, Mr Pilot mengumumkan kalau pesawat kami harus menunggu sekitar 20 menit lagi agar bisa mendarat, karena bandara sedang ditutup, because Mr Vice President was using it. Lumayan deh 20 menit muter-muter di atas laut, akhirnya setelah itu landing juga. Seperti biasa landing di Ngurah Rai juga serem-serem asik karena runway-nya terletak benar-benar di pinggir laut (just like Minangkabau Airport di Padang), jadi kalau liat keluar jendela ini pesawat udah terbang rendah banget tapi kok bawahnya masih laut semua.

Due to my condition yang batuk-batuk tiada henti ini, akhirnya saya langsung ke hotel (Fave Jl. Teuku Umar) dan tepar tidur. Bangun sejam kemudian karena lapar, saya cuma makan di depan hotel karena males gerak jauh-jauh. Lumayan, dapet nasi tempong cumi bakar yang enak tapi super pedessss, plus jeruk nipis hangat untuk tenggorokan saya yang bermasalah ini. Nama tempat makannya Nasi Tempong Indra, letaknya di Jl. Teuku Umar Denpasar. Harga paket nasi tempong (isinya cumi bakar 4 pieces lumayan gede, tahu, tempe, dan ikan asin goreng, lalapan daun bayem dan terong yang dikukus, serta mentimun dan sambel) itu Rp 47.000, jeruk nipis hangatnya Rp 10.000 segelas. Nasi tempong ini sebenarnya adalah makanan khas Banyuwangi, tetangga seberang laut-nya Bali. Khas-nya adalah bau kencur di sambelnya, tapi saya sih suka, bikin sambelnya makin manteb aja.

Nasi tempong cumi bakar
Sebenarnya sore harinya saya berencana pergi ke Kuta Square buat jalan-jalan sendirian, tapi setelah komtemplasi panjang, saya akhirnya membatalkan rencana tersebut, mengingat kondisi badan yang tidak memungkinkan, salah-salah malah tepar besok pas kerja, nggak lucu banget. Sedih sih, tapi kesedihan saya nggak berlangsung lama karena malamnya saya dikunjungi sama Dyan, teman menggila saya di PSM ITB dulu. Dyan sekarang kerja di Ubud, dan malem-malem bela-belain dateng ke Denpasar demi ketemu Jeng Tiesa, terharu banget. Kami (plus mas-nya Dyan, aheum) ngobrol-ngobrol sambil makan di angkringan di depan Happy Puppy jalan Teuku Umar dan sama-sama memesan nasi pindang ayam kampung, plus jahe madu buat saya dan es teh manis buat Dyan. Duhh, langsung nggak berasa ini tuh di Denpasar! Rasanya ini tuh angkringan mie jowo favorit kami di Jalan Balubur, Bandung, tempat nongkrong setelah latihan PSM (dan biasanya saya akan nebeng nginap di kosan Dyan berhubung rumah saya jauh dari kampus). Dyan masih tetap sama seperti yang saya kenal dulu: cungkring, petakhilan, tapi sangat menyenangkan. Saat waktu sudah menunjukkan after-midnight, terpaksa saya dan Dyan berpisah karena besok kami sama-sama harus bekerja.

With Dyan
Day two: kerja. Tapi, seperti biasa, selalu ada waktu buat saya berpetualang di tengah pekerjaan. Agenda saya hari ini adalah belanja (girls will be girls!) dan makan babi guling. Seperti biasa, teman baik saya berpetualang bernama GPS. Asyik, toko souvenir Krisna dan babi guling Chandra yang tersohor itu terletak dekat hotel! So, sehabis breakfast, dengan pedenya saya menyusuri Jl Teuku Umar berbekal GPS, celana pendek, kaos, dan sendal jepit. Lesson learned! Segala sesuatu yang terlihat dekat di peta nggak selamanya dekat di dunia nyata. Ditambah kemampuan saya yang jongkok banget dalam membaca peta, akhirnya ujung-ujungnya saya nanya juga sama beli tukang parkir. Syukurlah, setelah berpeluh di bawah matahari Denpasar saya sampai juga di Krisna.

Krisna ini adalah toko souvenir yang menjual berbagai oleh-oleh khas Bali.Tokonya cukup khas dengan hiasan patung Krisna berwarna biru tepat di pintu masuk. Setiap pengunjung yang masuk kesini akan diberi stiker yang bertuliskan nomor tertentu, meskipun sampai sekarang saya kurang paham itu maksudnya untuk apa. Hari itu saya membeli kaos buat Papa dan Dylan, daster buat Mama, kain pantai buat Mama dan Mbak Anis, segala macam aromaterapi, asesoris, dan printilan-printilan lain. Nggak lupa dong menghadiahi diri saya sendiri dengan beberapa potong baju. Selain itu, Krisna juga menyediakan aneka makanan khas Bali, jadi saya memborong beberapa box kacang disko dan pia. And as always, shopping selalu menyenangkan, kecuali ketika membayar. Tapi syukurlah Krisna menyediakan beberapa mesin EDC yang memudahkan hidup :)

Capek berbelanja, saatnya makan! Kaki ini lalu melangkah ke Rumah Makan Babi Guling Chandra di Jl Teuku Umar (dengan segenap belanjaan dari Krisna). Nom! Saya memesan satu paket babi guling seharga Rp 40.000, isinya ada nasi, kuah, lawar, sate, dan tentunya daging babi guling. I'm not really into meat, jadi favorit saya disini malah lawar-nya, tapi yang versi nggak disiram pakai darah babinya sih. Tips dari saya, kalau makan disini harus pinter-pinter milih spot tempat duduk, karena jujur saja bau dari daging babi mentahnya masih menguar dari dapur ke area makan, dan baunya itu lumayan bikin eneg.

Babi Guling!
Day three: packing then working then going back to Jakarta. Prosesi packing-nya sendiri adalah sesuatu yang cukup menegangkan, karena saya harus berusaha memasukkan semua belanjaan saya dalam koper karena alasan sederhana: saya males masukin koper saya ke bagasi pesawat (menunggu antrian bagasi di Soetta itu adalah penyia-nyiaan masa muda yang berharga). Untungnya kemampuan packing saya sudah lumayan advance: semua pakaian digulung sehingga lebih menghemat tempat :) Hari ini ditraktir sama rekan area Denpasar makan di Warung Bendega yang terletak di Jl. Cok Agung Tresna. I love this place! Ambience-nya sangat Bali dan mempunyai konsep semi-open restaurant tapi tetap teduh. Buat lunch saya memilih menu Nasi Campur Bali. Nasi putih yang dibentuk cone dengan berbagai side dishes: urap sayuran, kering kentang, ayam bumbu Bali, otak-otak tenggiri, sate lilit, ayam suwir yang dibumbui bawang dan cabe rawit, serundeng, telur asin, dan nggak ketinggalan kerupuk. What a cuisine! Kind of reminding me to tumpeng, versi individual. Rasanya enak banget, apalagi ditambah segelas es jeruk nipis. 

Patung Ganesha di Bendega

Nasi Campur Bali Warung Bendega

Beres kerja, masih ada beberapa saat sebelum flight. Saya pun minta diantar mencari oleh-oleh yang dipesan oleh sejuta umat di kantor: pie susu. Berdasarkan keterangan Bu Ayu yang notabene native di sana, pie susu paling enak namanya pie susu Regina. Pas ke sana, ternyata dia bukan berbentuk toko gitu, tapi hanyalah rumah biasa, letaknya di dekat Gereja Katedral Denpasar. Belinya aja pakai prosesi ketok pintu, dibukain pintu sama yang punya rumah, lalu bilang mau beli berapa banyak pie susunya. Tapi rasa pie susunya emang enak banget, nggak eneg, cocok untuk lidah saya yang kurang bisa menerima makanan manis. Oh iya, kalau mau beli pie susu disini sebaiknya telepon dulu sebelum datang untuk memastikan ketersediaan barangnya.

Pie susu!
Segala list titipan oleh-oleh udah checked, saatnya pulang. Perjalanan ke bandara cukup menyita waktu walaupun secara kilometer jaraknya nggak begitu jauh. Iyap, Denpasar macet banget! Apalagi saat itu sedang hot-hotnya persiapan Konferensi APEC. Bandara Ngurah Rai sendiri (saat itu) sedang mengalami banyak renovasi, sehingga direksionalnya cukup membingungkan. Tapi saya acungkan jempol ke tim janitorial-nya, karena WC nya rapi dan bagus banget. Check in beres, harus menerima kenyataan kena delay BEBERAPA jam. Maklum, lagi dapet maskapai 'ituh'. Ditambah kenyataan bahwa karena naik maskapai 'ituh' saya nggak bisa masuk lounge buat sekedar nyicip kopi atau cari koran, akhirnya saya menunggu dengan manis di boarding room, yang lebih parah ramenya dibanding Terminal Kampung Rambutan.

Jam 23 akhirnya saya touchdown Soetta. Duh! Si maskapai ini ternyata landing di Terminal 3 untuk penerbangan dari Denpasar ke Jakarta. Terpaksa lah saya kembali bete karena di terminal ini, yang namanya taksi burung biru itu susah banget dilihat penampakannya. Dan nasib karyawan ber-voucher, ya harus sabar nunggu antrian yang mengular. Syukurlah akhirnya bisa dapet taksi, sampai kosan langsung tepar. Untung betenya udah terobati dengan 4 bungkus pie susu di perjalanan.

Well, that's all! I wish I could visit Bali again someday, holiday purpose. Terakhir kesana pas study tour SMA, kali ini pengen rasanya pergi sama keluarga. Dan yang jelas, tanpa beban harus bekerja di Pulau Dewata!

Saturday, 6 July 2013

National Holiday Escape: Bogor!

Hari libur nasional adalah salah satu escape yang cukup menyenangkan buat karyawan kaya saya. Pertama, ada reduksi jam kerja, dan kedua, punya waktu lebih buat seneng-seneng.

Sebagai karyawan yang berusaha terdepan dalam prestasi liburan, saya emang hobi ngapalin hari-hari libur nasional dalam setahun. Sebenernya sih, alasan utama adalah karena sebagai newbie saya belum bisa ambil cuti, jadi hari libur nasional benar-benar menjadi sarana liburan buat saya dan teman-teman seangkatan.

Dan salah satu escape itu datang tanggal 6 Juni kemarin. Wah, libur di hari Kamis! Kejepit sih, dan, seperti yang sudah saya bilang tadi, Jumat-nya saya nggak bisa ambil cuti, jadi saya harus memikirkan liburan yang dekat dan bisa dijalani dalam 24 jam aja, tapi tetep fun dong.

Hasil ngobrol-ngobrol bareng temen-temen semasa kuliah (yang masih berjuang jadi karyawan di grup perusahaan yang sama, haha) memutuskan kita bakal pergi ke Bogor hari itu. Alasan utamanya, pengen nyobain naik commuter line! Oke, norak banget pasti kedengerannya buat yang tiap hari naik commuter line. Tapi buat anak-anak perantauan kaya kami, ini bakal jadi perjalanan pertama kami naik moda angkutan ini.

Rombongan pun terbentuk, terdiri dari saya, Kun, Grace, Austin, dan Nicha. Kami berlima beneran belum pernah ada yang nyobain naik commuter line, jadi semalem sebelumnya kami heboh diskusi di grup WhatsApp untuk mencari tahu tentang jadwal commuter line, yang diakhiri dengan kebingungan karena nggak bisa baca jadwal commuter line, yang, menurut kami, njelimet. Tapi kami modal nekat aja deh, pokoknya besok pagi janjian ketemu di stasiun.

Saya, Grace, dan Kun berangkat bareng dari Bintaro. Pagi-pagi, walaupun ujan kami udah kece kumpul di Alfamart pengkolan menuju stasiun (enggak banget yak, nunggu di pengkolan), lalu kami jalan kaki ke Stasiun Pondok Ranji. Berdasarkan rules bahwa ‘petugas berseragam adalah tempat yang tepat untuk bertanya saat tersesat’, kami pun bertanya pada petugas loket karcis, gimana cara kami bisa mencapai Bogor dengan commuter line. Ternyata, kami bisa membeli tiket terusan seharga Rp 17.000 dari Pondok Ranji menuju Bogor. Jadi dari Pondok Ranji kami naik comline menuju Tanah Abang, nah dari Tanah Abang pindah ke comline yang menuju Bogor.

Karcis comline berupa suatu kartu chip yang harus kita scan supaya kita bisa masuk peron. Bener-bener mirip sama pengalaman jaman dulu naik Metro di Paris (kurang gaul emang, pernah naik Metro Paris tapi nggak pernah naik comline di Jakarta). Kereta menuju Tanah Abang pun tiba dengan kondisi sangat full house alias dempet-dempetan. Tapi walaupun dalam posisi dempet-dempetan begitu, kami bertiga tetep bisa ngobrol dengan asyik, sempet gosipin orang segala bahkan (ups).

Karcis commuter line dan sedikit sneak peek interior com (as seen on my Instagram )

Sampai di Tanah Abang, dasar kurang cerdas, kami santai aja mengikuti arus orang-orang yang sama-sama baru keluar dari kereta. Eh, ternyata kami salah jalur! Kami malah keluar (dan dengan begonya kartu karcis kami serahkan ke petugas exit), padahal harusnya kami pindah ke jalur 5 instead of exit. Tapi dasar bocah-bocah selow, kami pun menghampiri bapak petugas.
‘Pak, kita harusnya pindah jalur soalnya mau ke Bogor, tapi kita malah keluar..’
‘Ya udah, beli karcis lagi Mbak.’
‘Yah pak, tadi kami udah beli yang terusan ke Bogor…’
Entah karena tampang kami yang terlalu kasihan atau emang bapak petugasnya baik, beliau pun me-rescan tumpukan kartu di depan beliau, demi mencari 3 kartu karcis milik kami (pasti ke-track, soalnya karcis kami kalau di-scan muncul tulisan BOO yang artinya memang karcis tersebut terusan sampai stasiun Bogor). 
Setelah kurang lebih 5 menit, ketemulah tiga kartu milik tiga anak dodol ini. Kami pun mengucapkan beribu terimakasih pada bapak petugas baik hati tersebut (‘Harusnya nggak boleh loh Mbak! Tapi saya kasihan kalau Mbak harus beli tiket lagi. Kan bisa buat beli yang lain’.) dan segera menuju jalur 5.

Kereta menuju Bogor pun datang, dan isinya kosong melompong. Comline ini sebenarnya bersih loh dan cukup oke kalau lagi kosong, dan ada gerbong khusus wanita-nya, plus ada security yang siap 'mengusir' siapapun yang berjenis kelamin pria yang berani duduk di gerbong khusus wanita ini. Kami sempat berhenti sebentar di stasiun Duren Kalibata untuk bertemu dengan Nicha dan Austin (mereka naik dari stasiun itu). Oh ya, kalau naik comline ini sistemnya kaya kita naik transJakarta, jadi kalau nggak keluar peron ya nggak perlu beli karcis lagi.

Full team, kami tiba di Bogor sekitar pukul 11, dan disambut dengan cuaca mendung dan dingin. Uh, bener-bener perfect banget buat jalan-jalan! Keluar stasiun, kami naik angkot nomer 03 menuju ke daerah Taman Kencana, karena dari hasil browsing-browsing, di daerah sekitar Taman Kencana banyak tempat makan-makannya. Naik angkotnya sih waktu itu dua ribu perak per orang, tapi itu waktu BBM belum naik sih.

Sampai di daerah Taman Kencana, kami pun agak kalap karena ternyata beneran banyak banget tempat makan disana. Dan inilah rute makan-makan kami hari itu:


1.       Lasagna Gulung dan Macaroni Panggang
Resto ini letaknya di Jalan Salak, kami sih memilih makan lasagna, macaroni-nya buat dibawa pulang. Tempatnya adem banget, rumahnya bergaya jaman dulu dengan konsep terbuka. Tempat duduknya ada yang berupa sofa, ada tempat duduk meja-kursi biasa, ada juga yang lesehan. Seperti namanya menunya ya lasagna dengan berbagai isian. Kami memilih beef lasagna dan shrimp cannelloni. Rasanya enak banget! Harga lasagna gulungnya sekitar 70 ribu per gulung kalau nggak salah, sedangkan cannelloni-nya sekitar 35 ribu per porsi. Tapi dari segi rasa saya lebih prefer shrimp cannelloni nya, mungkin karena beef lasagna udah umum aja ada dimana-mana.
Atas: Beef Lasagna. Bawah: Shrimp Cannelloni (as seen on my Instagram )
2.       Rumah Cupcakes
Rumah Cupcakes ini terletak di Jalan Sanggabuana (sebelahan banget sama Jalan Salak). Bentuknya café yang unyu banget, nuansanya serba pink dan putih, sampai mas-mas pramusajinya pun seragamnya pink. Menunya sebenarnya beragam tapi kami memilih makan cupcakes aja disini. Favorit saya cashew nuts cupcake dan blue velvet, karena rasanya nggak terlalu manis, pas deh pokoknya. Salah satu yang saya suka dari café ini adalah WC nya yang super bersih dan oke interiornya. Karena konsep café nya yang unyu-unyu, kami berlima menghabiskan cukup banyak waktu untuk foto-foto kurang penting di sini (memanfaatkan aplikasi PuddingCam di smartphone si Austin).

Various mini cupcakes (clockwise: strawberry, chocolate, bluberry, cashewnuts) (as seen on my Instagram )

Blue Velvet cupcake (as seen on my Instagram )

Taking pics ^^ (as seen on my Instagram )

Taking pics, front-camera edition :D (as seen on my Instagram )
3.       Pia Apple Pie
Setelah kenyang makan cupcake (dan kenyang foto-foto) kami move on ke destinasi kuliner selanjutnya: Pia Apple Pie di Jalan Pangrango. Walaupun nama restonya Pia Apple Pie tapi ada banyak juga hidangan lain selain apple pie disini, misalnya ada pie coklat, aneka minuman seperti smoothies dan kawan-kawan, serta beberapa menu heavy meal (kebanyakan western food). Kami sih tetap memilih memesan apple pie ukuran medium terus makannya bagi-bagi. Keistimewaan apple pie disini menurut saya adalah isi apple jam-nya yang tuebel banget! Saya sih suka, apalagi aroma cinnamon alias kayu manisnya kerasa banget (cinnamon plus apel itu juara!). Pie crust-nya juga cukup enak, walaupun buat saya sih agak kurang garing.
Medium apple pie

A piece of apple pie dan isiannya yang tebaaal :D (as seen on my Instagram )

Oh ya, untuk interiornya, resto ini cukup sederhana, warna dasar interiornya putih dengan beberapa bagian tembok bata merah unfinished, dan tentunya ada gambar pohon apel dimana-mana disertai beberapa quotes yang cukup unik yang semuanya bercerita tentang apel.
Salah satu sudut resto

4.       Kedai Kita
Sebenarnya perut kami sudah lumayan kenyang karena serbuan banyak makanan, tapi salah seorang teman bilang bahwa kami harus mencoba pizza tungku di Kedai Kita Jalan Pangrango (letaknya hadep-hadepan sama Pia Apple Pie kok). Kami pun menuju kesana daaaan… Penuh banget!! Perasaingan mendapatkan tempat duduk benar-benar ketat sampai kami berlima terpaksa berpencar dan mengawasi meja-meja yang keliatannya udah akan ditinggal penghuninya. Hampir setengah jam, kami rasanya ingin menyerah (bahkan sempet ada insiden Grace hampir ribut gara-gara rebutan tempat sama orang haha), tapi untung Mami Nicha sebagai ibu Negara yang baik dan benar mendapatkan tempat buat kami berlima. Kami pun memesan signature dish di tempat ini yaitu pizza tungku dan beberapa heavy meal lain. Pizza tungkunya rasanya enak (kami pesan BBQ pizza), tapi ifumie yang kami pesan rasanya kurang cetar. Pangsit gorengnya lumayan enak. Strawberry juice yang saya dan Grace pesan sebenarnya adalah signature beverage juga dari resto ini, tapi sayangnya strawberry juice batch kami rasanya kurang asik (mungkin karena hari itu restonya penuh banget kali ya, jadi pelayanannya kurang maksimeum hehehe).
Ifumie

BBQ pizza
5.       Death by Chocolate
Perut rasanya udah full house banget, tapi kami masih men-challenge diri kami dengan destinasi (yang untungnya) terakhir kami: Death by Chocolate di Jalan Ceremai. Jadi dari Kedai Kita kami jalan kaki menyusuri Jalan Ceremai berhubung kami kira nggak ada angkot yang lewat. Sudah jalan sekitar 50 meter, eh, ternyata ada angkot yang lewat. Hahaha, berasa bego. Tapi udah terlanjur, lanjut aja jalan kaki. Sayangnya disini trotoarnya kurang bersahabat buat pedestrian, tapi pepohonannya cukup rindang (semi-hutan malah menurut kami).
While walking menyusuri Jl Ceremai :)
Sampai di DbC kami pesan chocolate cake, yang rasanya emang ‘mematikan’ banget, just like the name of the café, soalnya coklat buanget deh rasanya. Kenyang pol. Disini interior tempatnya kaya Rumah Hantu di Dufan gitu, nama-nama dish and beverage-nya pun serem-serem, saya juga lupa sih exactly namanya apa, tapi ada yang kira-kira sounds like ‘Bola Mata Drakula’ yang sebenarnya adalah puding (sorry no pics available >.<)

Beres dari DbC, kami kembali jalan ke arah Taman Kencana buat naik angkot yang menuju ke arah stasiun. Sampai stasiun kami kembali ngantri tiket comline (kali ini udah pinter naik comline) dan seperti biasa gosip sepanjang jalan Bogor-Tanah Abang.
Masih sempat narsis di comline dengan bantuan front-camera ^^ (as seen on my Instagram )

Sampai Tanah Abang, kembali saya, Grace, dan Kun sebagai pejuang Bintaro lanjut kereta yang ke arah Serpong dan turun di Pondok Ranji. Jam menunjukkan pukul 20.30 saat kami touchdown Pondok Ranji (dan saya masih sempet jajan semangkuk baso sebelum pulang ke kosan, luar biasa gembul sekali). Berakhirlah sehari di Bogor bersama ‘geng’ DXG, yang syukurlah sekarang sudah bisa naik comline.

Sebenarnya masih banyak hal-hal dalam list perjalanan ini yang tidak terlaksana karena waktu yang terbatas, contohnya kami belum ke Kebun Raya Bogor (sebenarnya ini keinginan pribadi saya. Yang lain udah ogah berkunjung ke tempat-tempat kaya gitu, kayanya gara-gara udah muak jaman kuliah Botani Farmasi dulu dicekokin segala macam pengetahuan tanaman), plus kami belum ngasih makan dan foto bareng rusa-rusa kece yang ada di Istana Presiden Bogor (sempat lihat dari angkot doang, they’re soooo cute! Dan jumlahnya buanyak bangett berkeliaran di taman Istana Bogor, duh pokoknya unyu maksimal). 

Nggak tahan untuk nggak posting foto rusa-rusa imut Istana Bogor :D (photo courtesy of antaranews.com )

Tapi walaupun nggak semua destinasi sempat dijelajahi, overall kami puas banget bisa main ke Bogor hari itu (and, seriously, hemat! Saya menghabiskan sekitar IDR 120K buat transport dan semua makanan tadi) Destinasi untuk libur nasional berikutnya belum ditentukan nih, any idea? :D :D