Showing posts with label weekday escape. Show all posts
Showing posts with label weekday escape. Show all posts

Thursday, 8 May 2014

My Weekdays Escape: Lumajang, B29, dan Negeri di Atas Awan



 "Ties, awal Mei tugas tiga hari berturut-turut ya, dua hari di Lumajang dan sehari di Jember."

Demikianlah titah dari Pak Bos pada saya di suatu hari kerja. Meh, another episode of jelajah Jawa Timur nih, pikir saya. Baiklah, sebagai karyawati yang (ceritanya) baik, saya pun mengiyakan dan segera membuat itinerary perjalanan.

'Petualangan' dimulai di suatu Senin subuh yang damai, saya naik pesawat dari Jakarta ke Surabaya, kemudian naik kereta api dari Stasiun Gubeng Surabaya ke Jember. Eh, kenapa ke Jember dulu? Iya, soalnya area manager cabang sana tinggal di Jember, jadi nanti saya akan pergi bareng beliau ke Lumajang.

Semalam istirahat di Jember, Selasa pagi saya pergi ke Lumajang bersama sang area manager, Pak Rony. Perjalanan Jember-Lumajang ditempuh dalam waktu sekitar 2 jam (plus acara berhenti ngemil pastel yang sumpah-enak-banget, ada di Toko Soponyono, daerah perbatasan Jember sama Lumajang), medan cukup oke, plus pemandangan yang teduh dan damai.

Lumajang ini ternyata terletak di kaki Gunung Semeru. Pantesan aja hawanya cukup bersahabat, plus kotanya emang nggak begitu besar, sehingga rasanya nyaman aja. Di Lumajang ini saya menginap di Hotel Gajah Mada di Jl. P.B. Sudirman. Hotelnya fine kok, bersih dengan harga yang sesuai pula.

Dua hari kerja di Lumajang, Rabu siang setelah beres presentasi Pak Rony bertanya pada saya mau jalan-jalan kemana. Wah, saya clueless banget, so saya menyerahkan semuanya ke Pak Rony.

"Oke Bu, kita ke B29 saja yuk!"

Hah, B29? Apaan tuh? Saya sih taunya itu merk detergen. Tapi ternyata bukan B29 yang itu kok. B29 ini, menurut Pak Rony, adalah kampung tertinggi di Pulau Jawa. Wuih, bakal seru nih.

Kami pun berkendara sekitar sembilan puluh menit perjalanan ke arah luar kota Lumajang, dan setelah beberapa saat terpampang baligo besar bertuliskan 'Selamat Datang di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru'. Whoa whoa whoa! This is gonna be awesome, saya pikir.

Jalanan menuju Desa Argosari
 Kami terus melaju menuju sebuah desa yang bernama Argosari. So far, jalanan masih bersahabat banget, aspal, dan bisa dilewati dua mobil dari arah yang berlawanan. Yang nggak bersahabat sih medannya, banyak banget tikungan tajam yang merupakan tanjakan. Gile, udah nanjak, tikungan tajam pula. Sedap.

Gerbang Desa Argosari

Kira-kira 3 km dari gerbang desa Argosari, kami mulai merasa bahwa medan jalanan ke depan sudah tidak bisa dilalui lagi dengan mobil. Akhirnya kami berhenti di pinggir jalan dan menunggu penduduk yang lewat untuk kami tanyai soal akses menuju B29.

Dari keterangan beberapa penduduk yang melintas, akses satu-satunya menuju ke B29 adalah menggunakan ojek sepeda motor. Okesip, kami pun menyewa motor tiga orang penduduk setempat. Harga ojek yang kami sepakati adalah Rp 40.000 PP per ojek. By the way harga ini bisa bervariasi, bisa jadi lebih mahal kalau naiknya dari titik yang lebih bawah dari tempat kami berhenti. Driver ojeg yang saya naiki namanya Pak Tuwi. Beliau orang Suku Tengger asli, dan sehari-hari bermata pencaharian sebagai petani kentang dan bawang merah.

Motor digas dan kami pun mulai menapaki jalan menuju B29. Oh. My. God. The journey is more challenging to the adrenaline than riding Halilintar at Dufan! Seriously, it's very not recommended buat wisata keluarga bersama anak kecil, atau buat wanita hamil. Jalan setapak yang sangat off-road, jurang di sebelah kanan, bukit di sebelah kiri. Seriously I have to give ten thumbs to Pak Tuwi yang jago banget ngendarain motor di medan kaya gini. But despite of the off-road, the scenery is spectacularly beautiful. Bayangin bunga-bunga liar yang tumbuh di kiri-kanan, berpadu dengan lahan bawang merah, di ketinggian dimana awan adalah teman seperjalanan saking rasanya dekat banget. Yup, julukan buat daerah ini adalah Negeri di Atas Awan :)



Sepanjang perjalanan, Pak Tuwi bercerita tentang B29 ini pada saya (iya, beliau bisa banget cerita dengan santai, sambil nyetir motor di kondisi off-road, sementara saya di kursi penumpang berdoa semoga saya nggak terjungkal dan mendarat dengan posisi pantat duluan). B29 sendiri adalah singkatan dari Bromo-29. Bromo, karena daerah tersebut masih termasuk ke dalam rangkaian pegunungan Bromo. 29, karena titik tersebut berada 2900 meter di atas permukaan laut, dan diklaim sebagai tanah tertinggi di Pulau Jawa. B29 ini sendiri masih masuk ke dalam wilayah administratif Kabupaten Lumajang.

Setelah sekitar 20 menit mengendarai motor-rasa-Halilintar, tibalah kami di titik B29. WHOA! This is breathtaking scenery! I can see Bromo from above. Yup, from above! Interesting, isn't it? Jadi titik B29 ini memang secara ketinggian kabarnya lebih tinggi daripada Bromo, makanya kita bisa memandang Bromo dari atas disini. Eits, belom semua. Toleh kiri, dan puncak Gunung Semeru pun dengan gagahnya hadir memanjakan mata. Superb!

Bromo Mountain, right in front of my eyes

Puncak Gunung Semeru, gagah!
Kami pun naik lagi ke suatu tanah lapang dan mulai membuka bekal makan siang: ayam bakar. Kalau kata Pak Rony, ini adalah ayam bakar terenak yang pernah ia makan seumur hidup. Hahaha, boleh juga. Disini kami bertemu dua orang pecinta alam yang sedang mendirikan tenda dalam rangka ingin melihat sunrise esok hari dari titik ini. Ternyata oh ternyata, Pak Rony turned out to be pecinta alam juga while he was younger, so nyambunglah beliau ngobrol sama dua orang yang kami temui tadi. Dari pembicaraan mereka, ada satu hal yang saya tangkap: kabarnya Semeru sekarang kotor, sejak banyak orang berbondong-bondong datang kesana tanpa pengetahuan lingkungan hidup yang cukup (kata mas-nya itu sih most likely imbas dari pemutaran film 5 cm beberapa waktu lalu).

Angin disini cukup dingin, walaupun panas matahari pukul 4 sore masih cukup menyengat. By the way, mostly masyarakat asli sini selalu pakai sarung kain yang disampirkan di bahu mereka. Wajar sih, the wind is so breezy.

So that was it! Setelah beres makan ayam-bakar-terenak-versi-Pak-Rony, kami pun bersiap turun dan kembali ke kota karena waktu sudah menunjukkan hampir pukul empat sore.

Hmm, wait a sec. Have I mention that I made it there with complete business suit and a 5 cm heels?

Oh yes, I did that.

And I believe that there's a high possibility I'm the only one who do that. Crazy, yes? Hahaha... I admit that! Beberapa cowok pecinta alam yang ada di lokasi sampai bingung, ini mbak-mbak nyasar darimana nih. Bahkan Pak Tuwi sempat stres waktu liat saya nekat naik bukit pake heels. Ya maklum, ini event impromptu, kabur setelah beres kerja, so saya mana persiapan kostum. Tapi toh saya (syukurlah) selamat-selamat aja kok, tanpa kekurangan sesuatu apapun, kecuali lengan bagian bawah yang nyeri karena pegangan kencang di motor.

Made it with blazer and heels, yeay!


Literally Negeri di Atas Awan. Since I'm higher than the cloud :D
B29, Desa Argosari, Kabupaten Lumajang. Highly recommended banget buat dikunjungi. Sebaiknya pas weekday, karena kabarnya kalau weekend rame banget, dan space-nya nggak seluas itu, jadi pasti crowded. Sangat disarankan membawa kamera yang bagusan dikit, atau at least kalau mau pakai phone camera, jangan lupa bawa powerbank.

Satu lagi. Jagalah kebersihan dan kelestarian alamnya ya! :) 




Tuesday, 11 February 2014

My Weekdays Escape: Denpasar!

Throwback Agustus 2013. What? Baru di-posting sekarang? Iya, thanks to mas-mas ini yang ngomporin terus :p

~~~

Iya, Denpasar. Bukan Bali as a whole package. Thanks to flu dan batuk berat yang menyertai saya dalam perjalanan kali ini, I had to bid adieu to those pretty beaches, dan harus tepar di hotel memulihkan kondisi sebelum bekerja. But anyway, Denpasar pun menarik kok buat dijelajahi, buktinya saya dapet cukup banyak di 3D2N kali ini :)

Day one, seperti biasa pagi-pagi ke Soetta, yang ramainya udah ngalahin pasar Tanah Abang. Check in, boarding, nah pas masuk pesawat ini saya agak linglung. Jadi sekarang Garuda Indonesia menerapkan sistem penomoran seat yang baru buat pesawat-pesawatnya. Kalau selama ini nomor 1-5 itu punyanya business class, dan 6-akhir (tergantung jenis pesawatnya) itu punya economy class, dan nomor tempat duduknya pun ABC-DEF, sekarang ada pergantian yang cukup mencolok. Sekarang, nomor 1-10 itu punyanya first class (ini gaji berapa taun ya gue baru bisa naik first class hehehe), 11-20 punya business class, dan economy class dimulai dari nomor 21-akhir. Ini berlaku buat semua pesawat, nggak cuma pesawat-pesawat yang ada first class-nya aja. Alfabetnya pun bukan ABC-DEF buat model Boeing 737, tapi ABC untuk gang kiri (dari arah pintu masuk dekat kokpit), dan HJK buat gang kanan. So, pas liat boarding pass saya menunjukkan angka 25B, saya pede banget langsung jalan ke belakang, eh ternyata kebablasan karena 25 letaknya di depan. Hahaha.

Rute Jakarta-Denpasar emang agak spesial (harganya juga spesial, heu), soalnya di baki makanan yang biasanya cuma berisi main course dan dessert, kalau di rute ini ada tambahan roti plus butter. Haha, lumayan, tambahan karbo. Mendekati Ngurah Rai, Mr Pilot mengumumkan kalau pesawat kami harus menunggu sekitar 20 menit lagi agar bisa mendarat, karena bandara sedang ditutup, because Mr Vice President was using it. Lumayan deh 20 menit muter-muter di atas laut, akhirnya setelah itu landing juga. Seperti biasa landing di Ngurah Rai juga serem-serem asik karena runway-nya terletak benar-benar di pinggir laut (just like Minangkabau Airport di Padang), jadi kalau liat keluar jendela ini pesawat udah terbang rendah banget tapi kok bawahnya masih laut semua.

Due to my condition yang batuk-batuk tiada henti ini, akhirnya saya langsung ke hotel (Fave Jl. Teuku Umar) dan tepar tidur. Bangun sejam kemudian karena lapar, saya cuma makan di depan hotel karena males gerak jauh-jauh. Lumayan, dapet nasi tempong cumi bakar yang enak tapi super pedessss, plus jeruk nipis hangat untuk tenggorokan saya yang bermasalah ini. Nama tempat makannya Nasi Tempong Indra, letaknya di Jl. Teuku Umar Denpasar. Harga paket nasi tempong (isinya cumi bakar 4 pieces lumayan gede, tahu, tempe, dan ikan asin goreng, lalapan daun bayem dan terong yang dikukus, serta mentimun dan sambel) itu Rp 47.000, jeruk nipis hangatnya Rp 10.000 segelas. Nasi tempong ini sebenarnya adalah makanan khas Banyuwangi, tetangga seberang laut-nya Bali. Khas-nya adalah bau kencur di sambelnya, tapi saya sih suka, bikin sambelnya makin manteb aja.

Nasi tempong cumi bakar
Sebenarnya sore harinya saya berencana pergi ke Kuta Square buat jalan-jalan sendirian, tapi setelah komtemplasi panjang, saya akhirnya membatalkan rencana tersebut, mengingat kondisi badan yang tidak memungkinkan, salah-salah malah tepar besok pas kerja, nggak lucu banget. Sedih sih, tapi kesedihan saya nggak berlangsung lama karena malamnya saya dikunjungi sama Dyan, teman menggila saya di PSM ITB dulu. Dyan sekarang kerja di Ubud, dan malem-malem bela-belain dateng ke Denpasar demi ketemu Jeng Tiesa, terharu banget. Kami (plus mas-nya Dyan, aheum) ngobrol-ngobrol sambil makan di angkringan di depan Happy Puppy jalan Teuku Umar dan sama-sama memesan nasi pindang ayam kampung, plus jahe madu buat saya dan es teh manis buat Dyan. Duhh, langsung nggak berasa ini tuh di Denpasar! Rasanya ini tuh angkringan mie jowo favorit kami di Jalan Balubur, Bandung, tempat nongkrong setelah latihan PSM (dan biasanya saya akan nebeng nginap di kosan Dyan berhubung rumah saya jauh dari kampus). Dyan masih tetap sama seperti yang saya kenal dulu: cungkring, petakhilan, tapi sangat menyenangkan. Saat waktu sudah menunjukkan after-midnight, terpaksa saya dan Dyan berpisah karena besok kami sama-sama harus bekerja.

With Dyan
Day two: kerja. Tapi, seperti biasa, selalu ada waktu buat saya berpetualang di tengah pekerjaan. Agenda saya hari ini adalah belanja (girls will be girls!) dan makan babi guling. Seperti biasa, teman baik saya berpetualang bernama GPS. Asyik, toko souvenir Krisna dan babi guling Chandra yang tersohor itu terletak dekat hotel! So, sehabis breakfast, dengan pedenya saya menyusuri Jl Teuku Umar berbekal GPS, celana pendek, kaos, dan sendal jepit. Lesson learned! Segala sesuatu yang terlihat dekat di peta nggak selamanya dekat di dunia nyata. Ditambah kemampuan saya yang jongkok banget dalam membaca peta, akhirnya ujung-ujungnya saya nanya juga sama beli tukang parkir. Syukurlah, setelah berpeluh di bawah matahari Denpasar saya sampai juga di Krisna.

Krisna ini adalah toko souvenir yang menjual berbagai oleh-oleh khas Bali.Tokonya cukup khas dengan hiasan patung Krisna berwarna biru tepat di pintu masuk. Setiap pengunjung yang masuk kesini akan diberi stiker yang bertuliskan nomor tertentu, meskipun sampai sekarang saya kurang paham itu maksudnya untuk apa. Hari itu saya membeli kaos buat Papa dan Dylan, daster buat Mama, kain pantai buat Mama dan Mbak Anis, segala macam aromaterapi, asesoris, dan printilan-printilan lain. Nggak lupa dong menghadiahi diri saya sendiri dengan beberapa potong baju. Selain itu, Krisna juga menyediakan aneka makanan khas Bali, jadi saya memborong beberapa box kacang disko dan pia. And as always, shopping selalu menyenangkan, kecuali ketika membayar. Tapi syukurlah Krisna menyediakan beberapa mesin EDC yang memudahkan hidup :)

Capek berbelanja, saatnya makan! Kaki ini lalu melangkah ke Rumah Makan Babi Guling Chandra di Jl Teuku Umar (dengan segenap belanjaan dari Krisna). Nom! Saya memesan satu paket babi guling seharga Rp 40.000, isinya ada nasi, kuah, lawar, sate, dan tentunya daging babi guling. I'm not really into meat, jadi favorit saya disini malah lawar-nya, tapi yang versi nggak disiram pakai darah babinya sih. Tips dari saya, kalau makan disini harus pinter-pinter milih spot tempat duduk, karena jujur saja bau dari daging babi mentahnya masih menguar dari dapur ke area makan, dan baunya itu lumayan bikin eneg.

Babi Guling!
Day three: packing then working then going back to Jakarta. Prosesi packing-nya sendiri adalah sesuatu yang cukup menegangkan, karena saya harus berusaha memasukkan semua belanjaan saya dalam koper karena alasan sederhana: saya males masukin koper saya ke bagasi pesawat (menunggu antrian bagasi di Soetta itu adalah penyia-nyiaan masa muda yang berharga). Untungnya kemampuan packing saya sudah lumayan advance: semua pakaian digulung sehingga lebih menghemat tempat :) Hari ini ditraktir sama rekan area Denpasar makan di Warung Bendega yang terletak di Jl. Cok Agung Tresna. I love this place! Ambience-nya sangat Bali dan mempunyai konsep semi-open restaurant tapi tetap teduh. Buat lunch saya memilih menu Nasi Campur Bali. Nasi putih yang dibentuk cone dengan berbagai side dishes: urap sayuran, kering kentang, ayam bumbu Bali, otak-otak tenggiri, sate lilit, ayam suwir yang dibumbui bawang dan cabe rawit, serundeng, telur asin, dan nggak ketinggalan kerupuk. What a cuisine! Kind of reminding me to tumpeng, versi individual. Rasanya enak banget, apalagi ditambah segelas es jeruk nipis. 

Patung Ganesha di Bendega

Nasi Campur Bali Warung Bendega

Beres kerja, masih ada beberapa saat sebelum flight. Saya pun minta diantar mencari oleh-oleh yang dipesan oleh sejuta umat di kantor: pie susu. Berdasarkan keterangan Bu Ayu yang notabene native di sana, pie susu paling enak namanya pie susu Regina. Pas ke sana, ternyata dia bukan berbentuk toko gitu, tapi hanyalah rumah biasa, letaknya di dekat Gereja Katedral Denpasar. Belinya aja pakai prosesi ketok pintu, dibukain pintu sama yang punya rumah, lalu bilang mau beli berapa banyak pie susunya. Tapi rasa pie susunya emang enak banget, nggak eneg, cocok untuk lidah saya yang kurang bisa menerima makanan manis. Oh iya, kalau mau beli pie susu disini sebaiknya telepon dulu sebelum datang untuk memastikan ketersediaan barangnya.

Pie susu!
Segala list titipan oleh-oleh udah checked, saatnya pulang. Perjalanan ke bandara cukup menyita waktu walaupun secara kilometer jaraknya nggak begitu jauh. Iyap, Denpasar macet banget! Apalagi saat itu sedang hot-hotnya persiapan Konferensi APEC. Bandara Ngurah Rai sendiri (saat itu) sedang mengalami banyak renovasi, sehingga direksionalnya cukup membingungkan. Tapi saya acungkan jempol ke tim janitorial-nya, karena WC nya rapi dan bagus banget. Check in beres, harus menerima kenyataan kena delay BEBERAPA jam. Maklum, lagi dapet maskapai 'ituh'. Ditambah kenyataan bahwa karena naik maskapai 'ituh' saya nggak bisa masuk lounge buat sekedar nyicip kopi atau cari koran, akhirnya saya menunggu dengan manis di boarding room, yang lebih parah ramenya dibanding Terminal Kampung Rambutan.

Jam 23 akhirnya saya touchdown Soetta. Duh! Si maskapai ini ternyata landing di Terminal 3 untuk penerbangan dari Denpasar ke Jakarta. Terpaksa lah saya kembali bete karena di terminal ini, yang namanya taksi burung biru itu susah banget dilihat penampakannya. Dan nasib karyawan ber-voucher, ya harus sabar nunggu antrian yang mengular. Syukurlah akhirnya bisa dapet taksi, sampai kosan langsung tepar. Untung betenya udah terobati dengan 4 bungkus pie susu di perjalanan.

Well, that's all! I wish I could visit Bali again someday, holiday purpose. Terakhir kesana pas study tour SMA, kali ini pengen rasanya pergi sama keluarga. Dan yang jelas, tanpa beban harus bekerja di Pulau Dewata!

Saturday, 8 June 2013

My Weekdays Escape: Bukittinggi!



Saya pernah bilang di postingan saya terdahulu bahwa pekerjaan saya membuat saya harus travelling dari satu kota ke kota lain di Indonesia. Selama ini banyak teman yang menyuruh saya membuat catatan perjalanan saya di blog ini, namun belum terealisasi, entah karena saya nggak punya waktu, atau memang karena saya ke kota tersebut pure hanya untuk bekerja dan nggak sempet main-main ke objek-objek wisata di kota itu.

So, this is my first posting about my weekdays escape: jalan-jalan sembari bekerja. Kali ini saya berkesempatan mengunjungi Kota Bukittinggi, suatu kota wisata yang terletak di Provinsi Sumatera Barat, sekitar 2 jam perjalanan darat dari Padang.

Saya naik pesawat dari Jakarta menuju Padang sekitar 2 jam perjalanan. Saya paling suka naik penerbangan pagi atau siang kalau ke Padang, lalu memilih seat dekat jendela. Alasannya, pemandangannya itu loh, spektakuler banget saat pesawat sudah mulai memasuki Padang dan turun dari ketinggian jelajah normal. Laut dan pulau-pulau kecil yang tersebar siap memanjakan mata kita deh. Bandara Minangkabau di kota Padang letaknya di dekat pantai, jadi saat penerbangan pertama saya ke Padang dulu, saya sempat ketar-ketir saat pesawat mulai menukik turun tapi di bawah air semua. Oh, ternyata mau landing toh.. *kampungan*

Dari Padang menuju Bukittinggi, berhubung ini dalam rangka dinas, jadi saya dijemput oleh bapak-bapak dari kantor cabang Padang (later, mereka baru mengakui ‘ini kita jemput karena kami tahu yang datang cewek Mbak, coba yang datang cowok, kami biarkan saja sendiri ke Bukittinggi nggak kami jemput’ hahaha selalu ada keuntungan jadi cewek ternyata  :p) lalu kami berkendara ke Bukittinggi. 

Perjalanan dari Padang ke Bukittinggi itu betul-betul beyond beautiful! Terutama saat kita sudah memasuki daerah Lembah Anai dan Padang Panjang. Di daerah Lembah Anai ini ada air terjun yang letaknya persis banget di pinggir jalan (mohon maaf no pics available karena saat itu baterai handphone saya sedang kritis T.T), bahkan pada saat mobil kami melewati air terjun tersebut saya bisa merasakan percikan airnya ke muka saya melalui kaca mobil yang saya buka. Daerah ini jalannya berkelak-kelok sehingga sering disebut juga daerah Kelok Seribu (Puji Tuhan, saya jarang banget bermasalah dengan mabuk darat. Mungkin saking seringnya ada di jalan dibanding diam di suatu tempat >.<).  Sepanjang Padang Panjang hawanya sejuk banget bahkan cenderung berkabut sehingga kami memutuskan mematikan AC mobil dan buka jendela saja.
Kami berhenti di suatu warung pinggir jalan (saya lupa nama daerahnya, tapi sudah dekat sekali dengan pintu gerbang kota Bukittinggi) untuk istirahat. Sajiannya maknyus banget! Teh panas yang disajikan dalam batok kelapa dan bika pisang. Teh warnanya merah, hampir kayak warna merahnya wine. Rasanya pahit-pahit enak, jadi saya cuma tambahkan sedikit gula aja. Bika-nya bukan bika ambon yang warna kuning itu loh. Bika ini kayak kue jajan pasar, bahan utamanya pisang yang dicampur sama campuran kelapa parut lalu dibakar. Uuugh manteb banget dimakan panas-panas, apalagi saat itu hujan.

Setelah sekitar 2 jam perjalanan (plus berhenti-berhenti buat makan :p) tiba juga saya di Bukittinggi dan menginap di suatu hotel di Jalan Sudirman. Wah senangnya ternyata daerahnya ramai banget sama yang dagang makanan (emang hidup saya ini hanyalah antara jam makan saat ini dan jam makan berikutnya hehe)! Sampai di hotel, badan rasanya udah cekot-cekot (maklum kemarinnya baru pulang upcountry dari Cepu hahaha), tapi jiwa petualang saya membuat saya keluar lagi jalan-jalan di sekitar hotel. Lumayan dapet sate Padang :p

Setelah tidur pulas, pagi-pagi saya bangun, sarapan di hotel, dan kerja (part ini nggak usah diceritain lah yaa hahaha). Beres kerja, saya langsung diajak main sama bapak-bapak area Bukittinggi (kantor cabang Bukittinggi sama sekali nggak punya pegawai cewek, anyway haha). Tujuan pertama tentunya makaaan! Saya diajak makan di suatu warung lesehan yang terletak di dasar Ngarai Sianok. Woah! What a beautiful scenery! Pemandangan yang aduhai didukung pula sama menu yang nggak kalah oke: gulai itiak lado mudo. Sluurp! Daging bebek muda dengan bumbu gulai cabai hijau, pedes-pedes nikmat. Plus ikan khas Ngarai Sianok, aduh map saya lupa nama ikannya, yang jelas bentuknya kecil-kecil kaya ikan teri tapi nggak asin, digoreng jadi kaya bakwan gitu. Saya sempet diejekin sama bapak-bapak itu, ‘makannya dikit banget Mbak’, tapi mereka langsung meringis waktu tau itu baru porsi pertama saya.
Ngarai Sianok as seen from the restaurant

Perut kenyang, hati pun senang. Kami melanjutkan perjalanan kami ke Jam Gadang yang merupakan titik nol kilometer dari Kota Bukittinggi ini. Sampai disana, rameee banget, maklum udah musim liburan anak sekolahan. Berhubung saya pernah baca di internet kalau kita bisa naik ke atas Jam Gadang, saya pun berencana naik. Tapi kok nggak keliatan ada loket tiket ataupun orang lain yang masuk yah? Saya pun nanya ke Pak Doni gimana caranya naik kesana, lalu Pak Doni nanyain ke seorang bapak berseragam Pemda yang ada di situ, dan ternyata bisa masuk dengan tarif Rp 30.000. Hore! Saya pun masuk ke Jam Gadang (sendirian, cuma sama seorang petugas, bapak-bapak itu males katanya, hedeuh). Woah, berasa VVIP banget saya bisa tur Jam Gadang sendiri, hanya dengan 30 ribu perak doang.
Jam Gadang


Bapak pemandu saya ini (lagi-lagi lupa namanya, ampun paaak) adalah petugas dari Dinas Pariwisata Bukittinggi. Ternyata, sejak kejadian gempa yang melanda Padang dan sekitarnya beberapa tahun silam, kondisi bangunan Jam Gadang ini menjadi sedikit ‘rapuh’ sehingga memang sangat dibatasi pengunjung yang bisa masuk ke dalamnya (wah, saya merasa sangat beruntung deh!). Untuk mencapai puncak Jam Gadang ini kita harus menaiki tangga-tangga besi dalam 3 level.

Level pertama adalah suatu ruangan luas dengan gaya khas bangunan Belanda jaman dulu, sejuk banget di dalam situ!
Level kedua, ada tempat mesin Jam Gadang ini berada. Berdasarkan informasi Bapak Pemandu saya tadi, di dunia ini hanya ada dua mesin jam jenis ini. Yang satu berada di Jam Gadang Bukittinggi ini, dan yang satu adanya di Big Ben, London. Cool, isn’t it? Mesin jam ini adalah buatan Jerman tahun 1926 (berdasarkan tahun yang tertera di mesinnya). Si Bapak juga menjelaskan cara kerja mesin ini (maaf, saya suka kurang paham soal mesin-mesinan begitu, jadi nggak saya tulis nggak apa-apa yah), yang intinya ada suatu engkol yang harus diputar setiap seminggu sekali oleh petugas.
Mesin penggerak Jam Gadang

Setelah kagum mengagumi mesin jam, saya naik ke level berikutnya, dan ternyata sudah puncak! Hore! Di sini tersimpan lonceng dari Jam Gadang ini. Lonceng akan berdentang sekali bila jam menunjukkan pukul sekian lebih 30 menit (misalnya 00.30. 01.30, dst), dan akan berdentang sejumlah jam yang ditunjukkan (misal, berdentang sekali di jam 1, dua kali di jam 2, dst sampai paling banyak yan dua belas kali di jam 12).
Saya kemudian keluar dan whoa! A whole Bukittinggi view from above! Really, this is a breathtaking scenery for me. Saya bisa melihat Gunung Merapi, Gunung Singgalang, Benteng Fort de Kock, dan keseluruhan kota Bukittinggi dari atas. Angin yang bertiup cukup sejuk menemani  saya mendengarkan penjelasan Bapak Pemandu mengenai sejarah kota Bukittinggi ini. Seru!
Lonceng Jam Gadang


View dari atas Jam Gadang. Background nya Gunung Merapi dan Kota Bukittinggi (maap kalau muka saya agak mengganggu huhu lupa bgt foto pemandangannya doang >.<)

Turun dari atas Jam Gadang saya pun diajak beli oleh-oleh. Sanjai alias keripik singkong pedas khas SumBar nggak boleh ketinggalan doong.. Sanjai ini heaven-on-earth banget buat penyuka pedes kaya saya, walaupun biasanya setelah dosis tinggi sanjai saya biasanya mengalami masalah gastrointestinal dan sedikit masalah juga di gigi, hihihi…
Sanjai Christine Hakim, yang katanya emang paling enak

Puas lihat-lihat dan beli oleh-oleh, tibalah saat saya harus pulang (sebenarnya belum puas juga, masih ada hasrat terselubung pengen beli kain tenun khas Bukittinggi, belum ke Benteng Fort de Kock, tapi apa daya waktu tak mengijinkan, plus itu akhir bulan sehingga saya kereeee). Dari Bukittinggi saya naik travel menuju Bandara Padang (harga travelnya Rp 30.000, nama travelnya Armada), perjalanan sekitar 2 jam. Sepanjang jalan Mr. Driver memutar lagu-lagu Minang bertema cinta (akuh dipanggil Uni sama drivernya, cute banget yah), ajib banget.

Sampai Bandara Padang, harus menerima kabar buruk bahwa pesawat di-delay sejam lebiih. Dan akibatnya, sampai di Soetta baru jam 23.30. Omicot… Untung taksi gampang dicari dan jalanan super-lowong, 45 menit sudah sampai di kosan dan langsung mandi lalu menghaturkan diri ke haribaan kasur kosan. Capek (banget! Damn you, delay!), tapi senang bisa pergi berkunjung ke Bukittinggi.
Seriously, Bukittinggi is one of the must-visited place in Indonesia! :)

ps: for more information about Bukittinggi, kindly visit Bukittinggi government's official website :)